KONI Kota Tasikmalaya Menanti Kepastian Dana Porprov Jabar 2026
Di tengah persiapan panjang tersebut, ada satu hal yang masih dinantikan KONI Kota Tasikmalaya kepastian realisasi dukungan anggaran untuk Porprov Jabar 2026.
TASIKMALAYA – Januari 2026 menjadi titik awal keseriusan sejumlah cabang olahraga (cabor) di Kota Tasikmalaya menatap Pekan Olahraga Provinsi Jawa Barat (Porprov Jabar) 2026.
Ketika sebagian masyarakat masih menikmati suasana awal tahun, para atlet justru mulai meningkatkan intensitas latihan.
Sebagian masuk program Training Center (TC), sementara lainnya menjalani berbagai uji coba untuk mengukur kemampuan sebelum tampil di ajang olahraga terbesar tingkat provinsi tersebut.
Kini waktu telah bergerak jauh bulan Oktober semakin dekat. Program latihan yang dimulai sejak awal tahun memasuki fase penentuan. Kondisi fisik harus dijaga, teknik dimatangkan, mental pertandingan dibentuk, sementara kebutuhan keberangkatan kontingen mulai dihitung.
Di tengah persiapan panjang tersebut, ada satu hal yang masih dinantikan KONI Kota Tasikmalaya kepastian realisasi dukungan anggaran untuk Porprov Jabar 2026.
Ketua Harian KONI Kota Tasikmalaya, Hasan Basri, mengatakan secara teknis pihaknya bersama seluruh cabor telah melakukan persiapan sejak jauh hari.
"Untuk persiapan Porprov Jabar 2026 ini, kita dari KONI Kota Tasikmalaya sudah mempersiapkan sejak lama. Semua komponen cabor sudah ready," kata Hasan saat dihubungi di Sekretariat KONI Kota Tasikmalaya. Senin (7/9/2026).
Konsolidasi dengan seluruh cabor, menurut Hasan, terus dilakukan. Dari proses tersebut, KONI melihat geliat pembinaan olahraga di Kota Tasikmalaya cukup kuat. Sejumlah cabor bahkan tidak menunggu hingga mendekati pelaksanaan Porprov untuk memulai persiapan.
"Yang kami lihat geliat cabor ini sudah sangat luar biasa. Bahkan dari Januari sudah ada yang melakukan Training Center, paling tidak mereka melakukan uji coba," ujarnya.
Bagi Kota Tasikmalaya, kondisi tersebut menjadi modal penting menghadapi Porprov. Namun, semangat dan kesiapan atlet tetap membutuhkan dukungan anggaran yang memadai.
Sebab olahraga prestasi bukan hanya membutuhkan atlet dan pelatih. Ada biaya latihan, uji tanding, perlengkapan, transportasi, akomodasi, konsumsi hingga berbagai kebutuhan teknis lain yang harus dipenuhi.
Hasan memahami persoalan anggaran yang dihadapi KONI Kota Tasikmalaya tidak berdiri sendiri. Daerah lain di Jawa Barat juga menghadapi tantangan serupa akibat kondisi fiskal dan kebijakan efisiensi anggaran, namun bagi KONI, waktu menjadi persoalan penting.
Pemerintah Kota Tasikmalaya telah menetapkan dana hibah untuk KONI sebesar Rp4 miliar pada 2026. Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan anggaran yang pernah diterima KONI pada tahun-tahun sebelumnya.
Hasan menyebut pada 2018 anggaran KONI berada di kisaran Rp9 miliar. Kemudian pada 2022 mencapai sekitar Rp7,5 miliar dan tahun ini, anggaran yang ditetapkan sebesar Rp4 miliar.
"Dari jumlah Rp4 miliar itu kita sedang menunggu kapan. Karena bagaimanapun atlet-atlet yang sudah mempersiapkan diri ini tidak bisa lama-lama menunggu," katanya.
Persoalannya bukan sekadar angka di atas kertas. Para atlet tidak mungkin menghentikan program latihan hanya karena dukungan anggaran belum sepenuhnya terealisasi. Program yang telah disusun harus tetap berjalan.
Sebab ketika latihan terganggu, yang dipertaruhkan bukan hanya kondisi fisik. Ritme pertandingan, kesiapan mental dan target prestasi juga dapat ikut terdampak.
Karena itu, komunikasi antara KONI dan Pemerintah Kota Tasikmalaya terus dilakukan. "Kita juga sedang mempersiapkan dan itu juga yang sedang kita komunikasikan dengan Pemerintah Kota," ujar Hasan.
Di tengah ketidakpastian tersebut, KONI Kota Tasikmalaya mulai menyiapkan sejumlah langkah alternatif. Salah satunya membuka peluang mencari dukungan pembiayaan dari pihak lain, termasuk sektor swasta.
Namun, langkah tersebut membutuhkan mekanisme dan kewenangan yang jelas. KONI membutuhkan surat kuasa agar dapat melakukan komunikasi secara resmi dengan pihak swasta terkait dukungan pembiayaan kontingen.
"Angka pastinya belum keluar, belum kita dengar. Tapi kita juga menyiapkan beberapa planning untuk mencari beberapa sumber anggaran yang lain," kata Hasan.
Menurut Hasan, langkah tersebut merupakan bentuk ikhtiar agar kebutuhan atlet tidak terhambat. Porprov, kata dia, bukan kompetisi olahraga biasa.
Para atlet datang membawa nama Kota Tasikmalaya. Di arena pertandingan, mereka bukan hanya mewakili cabor, tetapi juga membawa identitas daerah.
"Ini menyangkut bukan kegiatan open kompetisi olahraga biasa," tegasnya.
Karena itu, ada reputasi daerah yang ikut dipertaruhkan. Ada target prestasi yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Dan ada kerja keras atlet yang tidak bisa begitu saja diulang apabila persiapan terganggu.
Hasan juga menyinggung adanya perjanjian terkait dukungan pembiayaan persiapan Porprov.
Menurut dia, dokumen tersebut telah ditandatangani secara bertahap. Namun, antara kesepakatan tertulis dan realisasi di lapangan masih terdapat persoalan.
"Padahal saya sudah menandatangani perjanjian tahap satu dan tahap-tahap berikutnya kapan. Cuman kan realisasinya tidak seindah apa yang kita tandatangani," katanya.
Hasan berharap persoalan tersebut segera mendapatkan penyelesaian. Sebab, menurut dia, persoalan anggaran bukan semata-mata menyangkut KONI. Ada nama Pemerintah Kota Tasikmalaya dan pihak-pihak yang telah menandatangani kesepakatan yang ikut dipertaruhkan.
"Karena ini akan mempertaruhkan nama Pak Wali Kota Tasikmalaya, Disporabudpar yang menandatangani agreement tersebut," ujarnya.
Hingga saat ini, Hasan mengatakan belum ada perubahan terhadap kesepakatan yang telah dibuat. "Mudah-mudahan segera kita dapatkan," katanya.
Bagi Hasan, persoalan yang lebih besar justru berada di balik angka-angka anggaran.
Ada manusia yang telah bekerja keras di balik persiapan Porprov adalah atlet dimana debagian telah berlatih sejak Januari. Sebagian telah mengikuti uji coba. Para pelatih telah menjalankan program yang disusun untuk mengejar performa terbaik.
Bukan tidak mungkin, ada atlet atau cabor yang mengeluarkan biaya pribadi untuk menjaga agar proses persiapan tetap berjalan.
Hasan mengatakan pihaknya telah memikirkan berbagai kemungkinan, termasuk kondisi terburuk. Namun, menurutnya, persoalan utama bukan sekadar bagaimana atlet dan cabor bertahan dalam situasi sulit.
Pertanyaannya adalah sampai sejauh mana atlet harus menanggung beban akibat ketidakpastian anggaran.
"Untuk kemungkinan terburuk itu, saya rasa teman-teman di cabor itu mereka sudah berbuat macam-macam. Bahkan mereka sudah bekerja, sudah berlatih," katanya.
Hasan juga menyampaikan kekhawatirannya adanya dampak terburuk terhadap keberangkatan atlet.
"Pertanyaannya bukan lagi hal terburuk, tapi apakah Pemerintah Kota tega membiarkan orang yang sudah berlatih, di mana sudah mengeluarkan segala daya upaya, keringatnya bahkan mungkin uang dari kantong pribadinya. Lalu tiba-tiba hal terburuk itu terjadi," ujar Hasan.
Bagi KONI, penyelesaian persoalan tersebut tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada cabor dan atlet. "Solusi itu bukan ada di kami, tapi dari Pemerintah Kota Tasikmalaya," tegasnya.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Tasikmalaya memastikan dukungan terhadap persiapan kontingen tetap dilakukan.
Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga Disporabudpar Kota Tasikmalaya, Momon Suryaman, mengatakan pemerintah daerah telah menyiapkan dana hibah sebesar Rp4 miliar untuk KONI.
Angka tersebut memang masih di bawah estimasi kebutuhan Porprov yang mencapai sekitar Rp7,5 miliar.
"Untuk kondisi Kota Tasikmalaya, pemerintah kota diawal dengan adanya penyaluran dana hibah sebesar Rp4 miliar, sedangkan kebutuhan di Porprov itu mencapai Rp7,5 miliar," kata Momon.
Momon menjelaskan dana hibah tersebut diberikan berdasarkan Keputusan Wali Kota mengenai dana hibah. Pemerintah daerah juga telah melakukan langkah percepatan melalui penyaluran tahap awal.
Pada Agustus 2026, Disporabudpar Kota Tasikmalaya dan KONI Kota Tasikmalaya menandatangani Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD) sebesar Rp500 juta.
"Untuk percepatan Porprov itu di bulan Agustus kemarin sudah disalurkan dengan ditandatanganinya NPHD antara Pemerintah Kota Tasikmalaya yang dalam hal ini Disporabudpar dengan KONI Kota Tasikmalaya sebesar Rp500 juta," jelas Momon.
Dengan adanya pencairan awal tersebut, pemerintah berharap sebagian kebutuhan persiapan kontingen dapat segera berjalan.
Momon mengatakan persoalan anggaran tidak hanya dialami Kota Tasikmalaya. Dalam pembahasan mengenai kesiapan Porprov bersama KDM, sejumlah daerah juga disebut menghadapi kendala fiskal.
"Beberapa daerah yang mengalami defisit anggaran itu mereka di atas Rp50 miliar menjadi satu hal kendala tersendiri," katanya.
Kondisi tersebut membuat efisiensi menjadi salah satu pilihan dalam pelaksanaan Porprov Jawa Barat 2026. Termasuk konsep pembukaan yang akan dibuat lebih sederhana.
Meski demikian, menurut Momon, KDM tetap menyatakan kesanggupan untuk mendukung pelaksanaan Porprov Jawa Barat 2026.
Dukungan Pemerintah Kota Tasikmalaya terhadap kontingen juga diarahkan melalui keterlibatan langsung kepala daerah.
Momon menyebut Wali Kota Tasikmalaya telah menyatakan kesiapan menjadi Ketua Kontingen Kota Tasikmalaya pada Porprov Jawa Barat 2026. Saat ini proses administrasi dan surat keputusan terkait hal tersebut masih diproses.
"Dukungan dari Pak Wali sendiri kesiapan untuk menjadi Ketua Kontingen yang hari ini sedang diproses perihal surat keputusannya," ungkap Momon.
Menurut dia, keterlibatan Wali Kota sebagai Ketua Kontingen diharapkan dapat memperkuat koordinasi sekaligus memastikan kebutuhan kontingen terpenuhi.
"Logikanya berarti dengan kesiapan Pak Wali menjadi Ketua Kontingen diarahkan segala kebutuhan fasilitas dapat terpenuhi," katanya.
Porprov Jawa Barat 2026 pada akhirnya bukan sekadar soal berapa banyak medali yang akan dibawa pulang Kota Tasikmalaya.
Ajang tersebut menjadi panggung untuk melihat sejauh mana pembinaan olahraga yang dilakukan selama ini mampu menghasilkan prestasi.
Di belakang setiap atlet ada pelatih dan dibelakang pelatih ada cabor kemudian di belakang cabor ada KONI dimana seluruh ekosistem olahraga tersebut terdapat pemerintah daerah yang memiliki peran penting dalam memberikan dukungan.
Kini para atlet telah menjalani proses panjang. Ada yang mulai berlatih sejak Januari. Ada yang telah mengikuti TC. Ada pula yang menjalani berbagai uji coba untuk mengukur kemampuan.
Mereka telah menginvestasikan waktu, tenaga dan tidak jarang biaya pribadi demi satu tujuan tampil maksimal ketika membawa nama Kota Tasikmalaya.
Di arena Porprov, yang terlihat nantinya adalah performa atlet. Medali, catatan waktu, kemenangan dan kekalahan akan menjadi hasil akhirnya.
Tetapi jauh sebelum pertandingan dimulai, ada satu hal yang masih menunggu kepastian dimana seberapa kuat dukungan yang diberikan kepada kintingen yang telah menghabiskan keringat demi membawa nama Kota Tasikmalaya?
Bagi Kintingen KONI Kota Tasikmalaya, kepastian itu dibutuhkan segera. Sebab semakin dekat pertandingan, semakin sempit pula waktu yang tersedia untuk memastikan seluruh kebutuhan kontingen. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

