Skena Rock Metal Tasikmalaya Menggeliat: Ratusan Band Tumbuh, Mulai Menembus Panggung Nasional
Salah satu group rock dan metal asal Tasikmalaya saat pentas di acara Super Musik beberapa hari yang lalu. (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

Skena Rock Metal Tasikmalaya Menggeliat: Ratusan Band Tumbuh, Mulai Menembus Panggung Nasional

Dalam beberapa tahun terakhir, geliat musik keras di Kota Tasikmalaya menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Kelompok-kelompok baru bermunculan.

TIMES Tasikmalaya,Rabu 26 Agustus 2026, 18:09 WIB
60
H
Harniwan Obech

TASIKMALAYAGelaran Super Musik bertajuk Shout Sound yang digelar beberapa hari yang lalu di salah satu cafe di Kawasan Cikalang Tawang Kota Tasikmalaya bukan sekadar pertunjukan musik.

Bagi pelaku skena rock dan metal Tasikmalaya, panggung semacam itu merupakan bagian dari perjalanan panjang sebuah komunitas yang selama bertahun-tahun tumbuh dari ruang-ruang kecil.

Di tengah arus musik populer yang silih berganti, rock dan metal justru menemukan cara sendiri untuk bertahan.

Dalam beberapa tahun terakhir, geliat musik keras di Kota Tasikmalaya menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Kelompok-kelompok baru bermunculan. 

Sejumlah band mulai memproduksi karya sendiri, membangun basis pendengar, tampil di luar kota, mengikuti tur, hingga memperoleh kesempatan mengisi panggung dengan skala lebih luas.

Musik rock dan metal Tasikmalaya perlahan tidak lagi hanya menjadi konsumsi komunitas terbatas. Ia mulai bergerak melalui karya, panggung, jaringan antarkota, media sosial, promotor, dan hubungan antarkomunitas.

Bagi para pelaku skena, perubahan itu penting. Sebab ukuran perkembangan musik keras bukan semata-mata jumlah band yang terbentuk, melainkan kemampuan sebuah ekosistem untuk melahirkan karya, mempertahankan regenerasi, membuka ruang pertunjukan, dan membawa nama daerah ke luar wilayah.

Perkembangan yang Signifikan

Salah satu orang yang mengikuti perubahan itu adalah Aang The Great, personel band GAIJIN Tasikmalaya. Band yang mengusung genre thrash metal tersebut telah eksis sejak 2017.

Saat ditemui TIMES Indonesia Aang megnungkapkan  perkembangan skena rock dan metal di Tasikmalaya dalam beberapa tahun terakhir semakin terlihat.

"Alhamdulillah makin signifikan. Sekarang makin banyak band yang memiliki karya sendiri, walaupun belum sepenuhnya konsisten. Ada yang datang dan ada yang pergi," ujar Aang saat ditemui di sela gelaran Super Musik Shout Sound, Rabu (26/8/2026).

Pernyataan itu memperlihatkan dua sisi perkembangan musik keras di Tasikmalaya.

Di satu sisi, semakin banyak musisi yang berani menciptakan karya orisinal. Mereka tidak lagi hanya mengandalkan lagu-lagu milik band lain ketika tampil. Di sisi lain, keberlangsungan sebuah band tetap menjadi persoalan.

Pergantian personel, keterbatasan biaya produksi, kesibukan masing-masing anggota, minimnya panggung, serta persoalan konsistensi berkarya membuat sebagian kelompok musik hanya bertahan dalam waktu tertentu.

Ada band yang datang membawa energi baru. Ada pula yang kemudian menghilang dari peredaran. Namun, bagi skena musik, siklus semacam itu merupakan bagian dari proses regenerasi.

Sulit menentukan secara pasti berapa jumlah band rock dan metal yang pernah maupun masih aktif di Tasikmalaya. Skena musik bawah tanah tidak selalu tercatat dalam satu basis data resmi.

Namun, berdasarkan pengamatan Aang selama bertahun-tahun terlibat dalam aktivitas musik keras, jumlahnya telah mencapai ratusan kelompok.

"Sepengetahuan saya jumlah band yang bergerak dalam skena rock dan metal di Tasikmalaya telah mencapai angka ratusan," kata dia.

Pergerakan Komunitas

Gambaran besarnya ekosistem itu dapat dilihat dari salah satu wadah pergerakan komunitas bernama Unblocked Movement. Menurut Aang, di dalam satu wadah tersebut terdapat sekitar 50 band.

Angka itu memang bukan sensus resmi seluruh band rock dan metal di Kota Tasikmalaya. Namun, ia memberi gambaran mengenai luasnya ekosistem musik keras yang tumbuh di kota ini.

Jumlah band yang banyak bukan berarti persoalan selesai. Justru setelah jumlah itu tumbuh, tantangan berikutnya menjadi lebih kompleks: bagaimana band bertahan, menghasilkan karya, membangun identitas, mendapatkan panggung, menemukan pendengar, dan memperluas jaringan.

Sebuah band tidak cukup hanya mempunyai personel dan alat music tetapi membutuhkan lagu, membutuhkan panggun dan yang tidak kalah penting, ia membutuhkan pendengar.

Perkembangan skena rock dan metal Tasikmalaya juga terlihat dari semakin seringnya musisi lokal tampil di luar daerah. Aang menyebut mobilitas tersebut sebagai salah satu dampak positif dari berkembangnya komunitas.

"Ya dampak positifna banyak, di antaranya makin banyak band nu punya karya, job luar kota pun banyak berdatangan, engagement di sosmed makin naik," ujar dia.

Panggung di luar kota menurutnya menjadi semacam ruang pengujian bagi sebuah band.

Di sana akan bertemu penonton baru, musisi dari daerah lain, promotor, event organizer, serta komunitas yang memiliki karakter berbeda, hubungan tersebut kemudian dapat berkembang menjadi jaringan baru.

Aang juga mengatakan sejumlah band lokal bahkan telah memperoleh undangan untuk melakukan tur. Sebagian mengikuti agenda promosi album atau single, sementara lainnya mendapat undangan langsung dari penyelenggara acara di daerah lain.

"Banyak band lokal yang diundang tour, entah itu promo album atau single atau murni undangan EO dari tiap daerah," katanya.

Mobilitas itu membuat batas antara skena Tasikmalaya dan kota-kota lain semakin tipis band tidak lagi harus menunggu dikenal oleh industri musik nasional untuk bisa tampil di luar daerah tetapi mereka dapat membangun jaringan sendiri.

"Satu panggung melahirkan perkenalan, satu perkenalan dapat menghasilkan undangan dan undangan itu kemudian membuka kemungkinan tur dari sana, jejaring baru kembali terbentuk. Begitulah ekosistem musik bawah tanah bekerja."tandasnya.

Sejumlah nama disebut Aang sebagai contoh band asal Tasikmalaya yang telah menunjukkan pergerakan lebih jauh. Ada Lukanegara, yang menurut Aang telah menjalani tur di sejumlah daerah di Indonesia.

Kemudian Amorphous, yang disebut pernah menjadi bagian dari jajaran pengisi acara Rock In Solo, salah satu panggung musik keras yang memiliki jaringan penonton cukup luas.

Ada pula STARVED HERO, yang disebut telah melakukan perjalanan pertunjukan hingga kawasan Asia Tenggara. Sementara GAIJIN, band yang digawangi Aang, juga telah tampil di sejumlah kota di Pulau Jawa.

Perjalanan band-band tersebut memperlihatkan bahwa musisi Tasikmalaya memiliki kemungkinan untuk bergerak keluar dari lingkaran local mereka membawa nama band sekaligus membawa identitas kota.

Dalam konteks itu, sebuah pertunjukan tidak hanya menjadi tempat memainkan lagu tetapi menjadi cara sebuah kota memperkenalkan dirinya melalui musik.

Perkembangan Teknologi Memicu Perubahan

Perkembangan teknologi digital ikut mengubah cara band-band independen memperkenalkan diri. Dulu, sebuah band dari daerah membutuhkan kaset, CD, jaringan distribusi fisik, atau rekomendasi dari orang-orang tertentu untuk menjangkau pendengar di kota lain.

Kini, satu lagu dapat dipublikasikan melalui platform digital. Video pertunjukan dapat dibagikan melalui media sosial. Poster konser dapat beredar dalam hitungan menit. Komunikasi dengan promotor bisa dilakukan tanpa harus bertemu terlebih dahulu.

Aang melihat perubahan tersebut sebagai salah satu faktor yang ikut memperbesar peluang band lokal. "Engagement di sosmed makin naik," kata dia.

Media sosial akhirnya bukan hanya menjadi etalase dan berubah menjadi bagian dari infrastruktur skena.

Band memperkenalkan lagu melalui media sosial. Penonton mengenal band melalui potongan video pertunjukan.

Promotor melihat aktivitas band dari dokumentasi digital. Sementara komunitas antarkota membangun komunikasi melalui ruang digital dimana batas geografis yang dahulu terasa tebal perlahan menjadi lebih tipis.

Di balik berkembangnya musik rock dan metal Tasikmalaya terdapat satu elemen penting yakni  komunitas. Dalam skena musik underground, komunitas tidak sekadar menjadi tempat berkumpul dan menjadi ruang belajar.

Musisi baru dapat bertemu dengan musisi yang lebih dahulu bermain. Informasi mengenai panggung dapat beredar. Peralatan bisa dipinjamkan. Acara dapat digagas bersama. Band dari kota lain dapat diundang.

Generasi baru tidak harus memulai semuanya dari nol. Mereka dapat belajar dari pengalaman generasi sebelumnya, kemudian menciptakan bentuk baru sesuai zamannya.

Namun, komunitas juga menghadapi tantangan, semakin banyak band tidak otomatis membuat semua band bertahan.

Ada kelompok yang berhenti karena personelnya berpencar. Ada yang kehilangan ruang latihan. Ada yang kesulitan biaya produksi. Ada pula yang tidak lagi menemukan panggung.

Karena itu, perkembangan skena tidak bisa hanya diukur dari jumlah band, konsistensi menjadi kata kunci.

"Makin banyak band yang memiliki karya sendiri, walaupun belum sepenuhnya konsisten. Ada yang datang dan ada yang pergi," kata Aang.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun, ia menggambarkan hukum alamiah sebuah skena musik. Band tumbuh, berkembang, berganti personel, bahkan bubar, tetapi selama ruang untuk generasi baru tetap tersedia, ekosistem tidak benar-benar mati.

Bertahan Sebagai Ekspresi Sosial

Pandangan serupa disampaikan Sani Harjasah (45), kurator Super Music yang juga berprofesi sebagai dosen di Universitas Pasundan Bandung.

Sani mengatakan dirinya telah mulai bermain musik sejak 1996. Genre yang dipilihnya adalah hardcore, salah satu cabang musik keras yang berkembang dalam tradisi musik independen.

Hampir tiga dekade kemudian, ia melihat genre tersebut tetap memiliki pendengar, termasuk dari kalangan Generasi Z.

Menurut Sani, salah satu faktor yang membuat musik hardcore dan genre musik keras lainnya tetap hidup adalah tingginya energi gerakan sosial yang melekat di dalam komunitas.

"Sejak tahun 1996 saya mulai bermain musik dengan genre minoritas, full hardcore. Sampai saat ini generasi Gen Z masih menyukai genre musik ini," ujar Sani.

Ia melihat pertumbuhan komunitas berjalan beriringan dengan karakter musik tersebut yang memiliki hubungan kuat dengan ekspresi sosial.

"Perkembangan musik ini berkembang salah satunya karena gerakan sosialnya tinggi, sehingga berdampak terhadap perkembangan komunitas yang semakin bertambah," kata dia.

Bagi Sani, musik keras tidak semata-mata persoalan suara yang keras. Ada ekspresi, kegelisahan, kritik, solidaritas, dan pengalaman sosial yang dituangkan melalui lirik maupun pertunjukan.

"Genre musik ini memacu adrenalin, dan sisi liriknya lebih ke sosial politik sehingga tak heran genre musik ini banyak berkembang di kalangan mahasiswa," ujarnya.

Pandangan itu menjelaskan mengapa musik keras memiliki kemampuan bertahan meski tidak selalu berada di arus utama industri musik, musik itu menawarkan sesuatu yang berbeda.

Musik keras dapat menjadi ruang untuk menyampaikan kegelisahan sosial, kritik terhadap keadaan, pengalaman personal, maupun pandangan terhadap lingkungan sekitar.

Posisi Strategis Tasikmalaya

Tasikmalaya memiliki posisi penting dalam jalur budaya Priangan Timur. Kota ini memiliki hubungan sosial dan mobilitas yang kuat dengan daerah-daerah lain di Jawa Barat.

Dalam skena musik, hubungan tersebut menciptakan jalur pertukaran. Musisi Tasikmalaya dapat tampil di Bandung, Garut, Ciamis, Banjar atau kota lain. Sebaliknya, band dari berbagai daerah dapat datang dan bermain di Tasikmalaya.

"Pertukaran itu membuat ekosistem semakin hidup."ungkapnya.

Penonton memiliki kesempatan mengenal musik dari luar daerah. Musisi mendapatkan pengalaman baru. Promotor menemukan jaringan baru. Komunitas memperluas relasi. Dalam jangka panjang, hubungan semacam itu dapat membangun identitas musikal sebuah daerah.

Tasikmalaya tidak harus menjadi kota industri musik terbesar untuk memiliki skena rock dan metal yang kuat yang dibutuhkan adalah kesinambungan dan band harus terus berkarya.

"Komunitas perlu mempertahankan ruang pertemuan, Promotor membutuhkan dukungan penonton. Sementara pemerintah dan berbagai pihak terkait dapat melihat geliat tersebut sebagai bagian dari perkembangan ekonomi kreatif dan kebudayaan anak muda."terangnya.

Pertumbuhan skena rock dan metal Tasikmalaya pada akhirnya menghadirkan pertanyaan yang lebih besar: ke mana arah perjalanan musik keras ini?

"Apakah ratusan band itu mampu bertahan? Berapa banyak karya yang akan lahir? Berapa banyak band yang dapat menembus jaringan nasional? Dan apakah Tasikmalaya mampu mempertahankan ruang pertunjukan bagi mereka?" ujarnya.

Pertanyaan tersebut penting karena skena musik tidak cukup hanya mengandalkan semangat. Ada kebutuhan terhadap ruang latihan, tempat pertunjukan, biaya produksi, dokumentasi, distribusi karya, promosi, hingga jaringan profesional.

Ketika semua elemen tersebut bertemu, musik dapat bergerak dari komunitas menuju industri kreatif tanpa harus kehilangan karakter independennya.

"Di situlah tantangan terbesar berada, menjadi besar tanpa kehilangan akar dan masuk ke panggung yang lebih luas tanpa meninggalkan komunitas yang membesarkannya."ujarnya.

Proses Regenerasi

Menghasilkan karya yang dapat diterima pasar tanpa kehilangan keberanian untuk menyampaikan gagasan. Dari Raungan Gitar Menuju Identitas Kota

Satu konser dapat menjadi awal bagi pertemuan berikutnya, satu lagu dapat mempertemukan sebuah band dengan pendengar baru. Satu unggahan media sosial dapat membawa musik dari Tasikmalaya ke kota yang belum pernah mereka datangi.

Di sanalah perjalanan musik rock dan metal Tasikmalaya berlangsung. Bukan hanya melalui suara gitar yang meraung atau drum yang berdentum.

Tetapi melalui orang-orang yang terus datang, bermain, berkarya, membuat acara, mendukung teman, membangun komunitas, dan membuka jalan bagi generasi berikutnya.

Aang melihat perjalanan itu sebagai sesuatu yang belum selesai. Sebab semakin banyak band yang muncul, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga ekosistem agar tetap hidup.

Sani melihatnya dari sisi lain: musik keras memiliki energi sosial yang membuatnya mampu bertahan lintas generasi. Dua pandangan itu bertemu pada satu titik.

Musik rock dan metal Tasikmalaya tidak sedang sekadar mengejar popularitas tetapi sedang membangun ruang hidupnya sendiri di mana panggung kecil di kedai kopi hingga pertunjukan di luar kota.

Dari komunitas hingga jaringan antardaerah. Dari lagu yang dimainkan di ruang latihan hingga karya yang didengar orang-orang yang bahkan belum pernah datang ke Tasikmalaya.

Jika proses tersebut terus dijaga, maka dentuman drum dan raungan gitar dari Tasikmalaya bukan lagi sekadar suara dari pinggiran. Ia dapat menjadi penanda bahwa dari kota di Priangan Timur ini, sebuah generasi sedang membangun identitasnya melalui musik. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Harniwan Obech
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Tasikmalaya, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.