https://tasikmalaya.times.co.id/
Berita

Inovasi Rolade Ayam Kelor Karya Dosen Universitas Perjuangan Jadi Senjata Baru Lawan Stunting di Tasikmalaya

Sabtu, 07 Februari 2026 - 07:32
Inovasi Rolade Ayam Kelor Karya Dosen Universitas Perjuangan Jadi Senjata Baru Lawan Stunting di Tasikmalaya Rolade Ayam Kelor Karya Dosen Universitas Perjuangan Dr. Ir. Ristina Siti Sundari, M.P, siap untuk disajikan, Sabtu (7/2/2026) (FOTO : Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

TIMES TASIKMALAYA, TASIKMALAYA – Di tengah hamparan perbukitan hijau dan tanah subur Tasikmalaya, tumbuh sebuah tanaman yang selama ini kerap dipandang sebelah mata yakni daun kelor (Moringa oleifera).

Tumbuh liar di pekarangan rumah warga, sering dijadikan sekadar sayur bening atau bahkan dibiarkan tanpa pemanfaatan maksimal. 

Namun di tangan seorang akademisi, tanaman sederhana ini berubah menjadi senjata baru melawan stunting masalah gizi kronis yang masih menjadi tantangan serius di Tasikmalaya.

Dr. Ir. Ristina Siti Sundari, M.P, dosen Fakultas Pertanian Universitas Perjuangan (Unper) Tasikmalaya, yang berhasil mengangkat daun kelor menjadi pangan fungsional bernilai tinggi melalui inovasi Rolade Ayam Kelor dan Puding Kelor. 

menunjukkan-daun-kelor.jpg

Anggota Kelompok Wanita Tani Roay Lestari saat menunjukkan daun kelor di Kantor Kelurahan Kahuripan, Tawang, Tasikmalaya. (FOTO : Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

Inovasi ini tidak hanya menjawab persoalan gizi anak, tetapi juga menyentuh aspek budaya makan, pemberdayaan ibu rumah tangga, hingga peluang ekonomi berbasis UMKM lokal.

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis dalam jangka panjang, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan, sejak janin dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun, pada fase inilah fondasi kesehatan dan kecerdasan anak dibentuk.

Berdasarkan data yang ada Kabupaten Tasikmalaya mencatat prevalensi stunting sebesar 27,5 persen pada 2022, meningkat dari 24,4 persen pada tahun sebelumnya sedangkan Kota Tasikmalaya masih berada di angka 21,7 persen pada 2025.

pembuatan-rolada-bernahan-baku-daun-kelor.jpg

Salah satu kelompok Wanita Tani saat mempraktekkan pembuatan rolada bernahan baku daun kelor, di Kantor Kelurahan Kahuripan, Tawang, Tasikmalaya. (FOTO : Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

Angka tersebut berada di atas ambang batas aman yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni maksimal 20 persen. Artinya, satu dari lima anak di Tasikmalaya masih berisiko mengalami gangguan pertumbuhan.

Lebih dari sekadar tubuh pendek, stunting berdampak luas dan jangka panjang, di antaranya Gangguan perkembangan otak dan kognitif, Penurunan kemampuan belajar, sistem imun yang lemah, risiko penyakit tidak menular saat dewasa serta produktivitas rendah di masa depan.

Jika tidak ditangani serius, stunting berpotensi menjadi penghambat utama pembangunan sumber daya manusia dan pertumbuhan ekonomi daerah.

Dalam dunia kesehatan dan nutrisi global, kelor dikenal sebagai “Miracle Tree” atau pohon ajaib. Julukan ini bukan tanpa alasan. Daun kelor mengandung berbagai zat gizi esensial yang sangat dibutuhkan anak dalam masa pertumbuhan.

Beberapa kandungan unggulan daun kelor antara lain protein tinggi, membantu pembentukan dan perbaikan sel tubuh, zat besi, mencegah anemia yang kerap dialami ibu dan anak, vitamin A, meningkatkan daya tahan tubuh dan kesehatan mata, Kalsium, memperkuat tulang dan gigi dan antioksidan, melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas

Dengan kandungan tersebut, daun kelor sebenarnya merupakan sumber pangan lokal murah, mudah tumbuh, dan sangat potensial untuk mencegah kekurangan gizi.

Meski kaya nutrisi, daun kelor sering kali kurang diminati anak-anak. Aroma langu, warna hijau pekat, serta penyajian yang monoton membuat anak enggan mengonsumsinya.

Inilah persoalan klasik yang kerap muncul dalam program gizi: tinggi nutrisi tidak selalu sejalan dengan selera.

“Masalahnya bukan pada kandungan gizinya, tapi bagaimana cara menyajikannya. Anak-anak tidak bisa dipaksa makan makanan sehat yang tidak mereka sukai,” ungkap Dr. Ristina Siti Sundari kepada TIMES Indonesia Sabtu (7/2/2026)

Berangkat dari pemahaman tersebut, ia mulai mengembangkan konsep diversifikasi pangan kelor dengan pendekatan kuliner yang lebih ramah anak dan keluarga.

Salah satu produk unggulan hasil inovasi ini adalah Rolade Ayam Kelor.

Rolade ini mengombinasikan Protein hewani dari daging ayam, protein nabati serta mikronutrien dari daun kelor.

Disajikan dalam bentuk gulungan seperti rolade pada umumnya, makanan ini memiliki tekstur lembut, rasa gurih, dan tampilan menarik. Bentuknya yang familiar membuat anak-anak tidak merasa sedang “dipaksa makan sayur”.

Selain rolade, dikembangkan pula puding kelor sebagai camilan sehat alternatif, terutama bagi anak-anak usia dini.

Produk ini diuji coba langsung kepada keluarga dan mendapat respons positif, terutama dari anak-anak yang sebelumnya enggan mengonsumsi sayuran.

Inovasi ini lahir bukan di laboratorium semata, melainkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang melibatkan langsung warga.

Sebagai dosen Fakultas Pertanian Universitas Perjuangan, Dr. Ristina menjadikan riset dan pengabdian sebagai satu kesatuan. Ia tidak hanya mentransfer pengetahuan kepada kelompok Wanita (KWT), tetapi juga memastikan inovasi dapat diterapkan secara nyata di tingkat rumah tangga.

“Kami ingin solusi yang berkelanjutan. Bukan sekadar bantuan makanan, tapi keterampilan yang bisa diterapkan setiap hari oleh keluarga,” ujarnya.

Dalam program ini, ibu rumah tangga menjadi sasaran utama edukasi. Peran ibu dinilai sangat strategis karena merekalah yang mengatur menu dan pola makan keluarga sehari-hari.

Dalam pelatihan, para ibu dibekali dengan Teknik memilih dan mengolah daun kelor segar, cara menghilangkan aroma langu tanpa merusak nutrisi, pembuatan rolade ayam kelor dan puding kelor serta strategi menyajikan makanan sehat agar menarik bagi anak

Pendekatan ini terbukti efektif karena perubahan pola konsumsi dimulai langsung dari dapur rumah.

Agar lebih diterima, Dr. Ristina juga membagikan teknik praktis mengolah kelor, antara lain dengan menggunakan daun kelor muda dan segar, mencuci bersih dengan air mengalir, merebus sebentar (blanching) dalam air panas ditiriskan dan cincang halus kemudian menambahkan jahe atau perasan lemon.

Metode ini mampu menurunkan aroma khas kelor tanpa menghilangkan kandungan gizinya.

Resep Rolade Ayam Kelor Kaya Gizi

Bahan isi:
Daun kelor 100 gram
Daging ayam 250 gram
Tahu 2 potong besar
Wortel parut 2 buah
Bawang putih halus
Telur ayam 2 butir
Lada, pala, gula, kaldu ayam secukupnya

Bahan kulit:
Telur 2 butir
Tepung tapioka 2 sdm
Garam, lada, air secukupnya

Cara singkat:
Campur bahan isi hingga merata. Buat dadar tipis dari bahan kulit. Bentangkan isi di atas dadar, gulung rapi menggunakan daun pisang, kukus hingga matang, lalu potong dan sajikan.

Inovasi rolade kelor tidak berhenti di dapur rumah tangga. Produk ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi usaha mikro berbasis pangan sehat.

Rolade ayam kelor dan puding kelor berpeluang dipasarkan sebaga makanan sehat anak, menu katering gizi dan produk unggulan UMKM Kelurahan.

Tren masyarakat yang semakin sadar akan pola hidup sehat membuka peluang pasar yang luas bagi pangan fungsional berbasis kelor.

Dengan kemasan modern, label gizi, dan promosi digital, produk ini berpotensi menjadi ikon kuliner sehat Tasikmalaya.

Kisah daun kelor di Tasikmalaya menunjukkan bahwa solusi besar tidak selalu datang dari teknologi mahal. Justru, potensi lokal yang sederhana dapat menjadi jawaban atas persoalan global seperti stunting.

Pemanfaatan kelor mampu mendukung pencegahan stunting, memperkuat ketahanan pangan keluarga srta dapat meningkatkan ekonomi masyarakat.

Pendekatan berbasis kearifan lokal ini dinilai lebih berkelanjutan dibandingkan bantuan jangka pendek yang bergantung pada pihak luar.

Stunting adalah tantangan besar, namun bukan tanpa solusi. Kolaborasi antara akademisi, masyarakat, dan pemerintah daerah menjadi kunci keberhasilan.

Melalui inovasi rolade ayam kelor dan puding kelor yang digagas Dr. Ir. Ristina Siti Sundari, M.P, Tasikmalaya menunjukkan bahwa perang melawan stunting bisa dimulai dari meja makan keluarga.

"Jika gerakan ini diperluas ke desa-desa, sekolah, dan posyandu, bukan tidak mungkin Tasikmalaya mampu menurunkan angka stunting secara signifikan dan melahirkan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan berdaya saing."pungkas Ristina. (*)

Pewarta : Harniwan Obech
Editor : Imadudin Muhammad
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Tasikmalaya just now

Welcome to TIMES Tasikmalaya

TIMES Tasikmalaya is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.