Trinanda Zalsa, Mojang Tasikmalaya yang Bawa Misi Budaya ke Kancah Internasional
Trinanda Zalsa, mahasiswa fast track UPI Tasikmalaya dan Mojang Wakil 1 Kota Tasikmalaya 2025, sukses mengukir prestasi internasional. Ia memiliki misi membawa budaya Sunda ke panggung dunia.
TASIKMALAYA – Trinanda Zalsa, sosok muda penuh energi yang akrab disapa Nanda. Gadis kelahiran Tasikmalaya berusia 21 tahun tersebut merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara yang memiliki semangat belajar luar biasa.
Saat ini, Nanda tercatat sebagai mahasiswa program fast track yang menempuh pendidikan S1 dan S2 PGSD di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Tasikmalaya secara bersamaan. Di sela kesibukan akademisnya, ia tetap menyempatkan diri menyalurkan hobi traveling untuk memperluas cakrawala berpikir. Melalui akun Instagram @trinandazls dan TikTok @trinandazalsa, ia kerap membagikan konten positif dari aktivitas kesehariannya kepada publik.
Loncatan Prestasi Nasional dan Internasional
Daftar pencapaian Nanda menggambarkan sosok yang haus akan tantangan di berbagai bidang. Ia berhasil menyabet gelar Mojang Wakil 1 Kota Tasikmalaya 2025 dan menjadi Juara 1 Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) tingkat UPI Tasikmalaya, yang membawanya masuk dalam jajaran Top 10 Pilmapres di tingkat Universitas (UPI Pusat).
Kemampuan komunikasi dan presentasinya diakui secara global saat dinobatkan sebagai Best Presenter dalam International Joint Seminar di Malaysia. Tak hanya itu, kreativitasnya terbukti lewat raihan Juara 3 lomba media digital tingkat nasional, serta Juara 1 dan Juara Favorit dalam kompetisi poster tingkat nasional.

Di dunia beauty creator, ia terpilih menjadi Wardah Youth Ambassador batch 2 dan Emina Girl Gang Ambassador champion batch 6. Fondasi prestasinya telah terbangun sejak masa sekolah, mulai dari juara kaligrafi, LCC PAI, hingga menjadi Best Tutor of English Morning Vocabulary. Nanda juga mendominasi berbagai kompetisi bahasa dan religi, seperti Olimpiade Bahasa Arab dan Bahasa Inggris di lingkungan SMPT dan SMAT Riyadlul Ulum.
Misi Budaya di Panggung Tiga Negara
Sebagai mahasiswa studi lanjut, Nanda kini tengah mempersiapkan diri untuk kembali membawa nama Indonesia ke kancah internasional dalam sebuah agenda di Malaysia. Kegiatan simposium internasional, aksi sosial, dan festival warisan seni budaya tersebut akan dihadiri perwakilan mahasiswa dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
Nanda menuturkan, agenda ini merupakan kesempatan berharga untuk memperkenalkan tarian daerah, membatik, hingga melakukan dialog budaya secara mendalam.
"Alhamdulillah, tahun ini saya berkesempatan lagi mewakili UPI Kampus Tasikmalaya setelah tahun sebelumnya meraih kesempatan serupa," ungkapnya dengan nada syukur, Minggu (5/4/2026).
Ia berharap kehadirannya dalam forum lintas negara tersebut dapat menjadi representasi kuat dalam melestarikan budaya daerah, khususnya identitas Kota Tasikmalaya.
"Bagi saya, menjadi seorang Mojang bukan sekadar gelar kecantikan, melainkan tanggung jawab besar untuk menyuarakan nilai-nilai luhur kepada generasi masa kini," imbuh Nanda. Ia menyadari tantangan terbesar saat ini adalah miskonsepsi anak muda yang menganggap budaya sebagai sesuatu yang kaku dan membosankan.
Edukasi Melalui Filosofi dan Aksi Nyata
Dalam menjalankan tugasnya, Nanda bersama Paguyuban Mojang Jajaka Kota Tasikmalaya fokus pada edukasi yang menyentuh akar filosofis. Ia menjelaskan bahwa produk budaya seperti pakaian adat sebenarnya mengandung prinsip kehidupan yang dinamis.
Ia mencontohkan siloka di balik tiga kancing lengan busana Jajaka yang melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. "Jika kita hanya tahu jumlah kancingnya tentu tidak menarik, tetapi jika menerapkan nilai di baliknya, dampaknya akan jauh lebih besar bagi kepribadian seseorang," jelasnya.
Langkah nyata tersebut diwujudkan melalui program bermain bersama anak-anak di ruang publik Tasikmalaya. Dalam aktivitas tersebut, mereka diwajibkan menggunakan bahasa daerah yang disisipkan nilai pengetahuan budaya secara menyenangkan.
Selain itu, Nanda aktif berkolaborasi dengan komunitas pemuda Pager Asik untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan dan mengajak anak-anak melukis bersama.
"Saya percaya bahwa semua dedikasi tersebut merupakan manifestasi dari semboyan silih asah, silih asih, dan silih asuh guna mencapai kesempurnaan hidup manusia Sunda atau Askara Kisunda," tandasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

