Jaga Produksi Pupuk Nasional, Pupuk Kujang Perkuat Energi Hijau dan Pasokan Gas Bumi
Pupuk Kujang kini mulai mempercepat langkah strategis dalam pengembangan industri hijau.
TASIKMALAYA – PT Pupuk Kujang mempertegas komitmennya dalam mendukung transformasi energi nasional melalui implementasi kebijakan energi baru dan penguatan efisiensi produksi guna menjaga stabilitas pasokan pupuk nasional.
Sebagai anak usaha dari Pupuk Indonesia Grup, Pupuk Kujang kini mulai mempercepat langkah strategis dalam pengembangan industri hijau.
Langkah itu diwujudkan di antaranya melalui pemanfaatan energi bersih, optimalisasi gas bumi, hingga pengembangan Blue Ammonia dan Green Ammonia.
Ini dilakukan sebagai bentuk dukungan implementasi PP Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional yang mendorong transformasi energi menuju sistem yang lebih berkelanjutan, efisien, dan rendah emisi karbon.
Dalam implementasinya, Pupuk Kujang membangun sinergi bersama Dewan Energi Nasional serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral guna memastikan keberlangsungan energi industri pupuk nasional tetap terjaga.
Direktur Operasi dan Produksi Pupuk Kujang, Arlyza Eka Wijayanti menegaskan bahwa keberlangsungan produksi pupuk sangat bergantung pada stabilitas energi dan pasokan gas bumi.
Menurutnya, gas bumi masih menjadi bahan baku utama dalam industri pupuk nasional sehingga kepastian pasokan energi menjadi faktor vital dalam menjaga ketahanan pangan Indonesia.
“Keandalan pasokan energi dan gas bumi adalah kunci utama dalam menjaga mandat ketahanan pangan. Dengan stabilitas energi yang terjaga, kami dapat mengoptimalkan kapasitas produksi pabrik guna memastikan kebutuhan petani di lapangan senantiasa terpenuhi,” ujar Arlyza Jumat (8/5/2026).
Ia menjelaskan, strategi penguatan energi tersebut tidak hanya bertujuan menjaga kapasitas produksi tetap optimal, tetapi juga menjadi pijakan penting dalam pengembangan industri pupuk rendah emisi di masa depan.
Sebagai bagian dari transformasi industri hijau, Pupuk Kujang kini tengah mempercepat pengembangan Blue Ammonia serta melakukan penjajakan Green Ammonia sebagai hydrogen carrier (pembawa hidrogen masa depan).
Pengembangan Blue Ammonia dilakukan melalui teknologi rendah karbon yang memanfaatkan proses penangkapan emisi karbon atau carbon capture.
Sementara Green Ammonia dikembangkan menggunakan energi terbarukan sehingga dinilai lebih ramah lingkungan dan berpotensi menjadi solusi energi masa depan.
Kedua program tersebut merupakan bagian dari strategi besar Climate Action perusahaan yang fokus pada Efisiensi energi industri, Pengurangan emisi karbon, Penguatan industri hijau berkelanjutan dan Transformasi energi bersih nasional.
Langkah ini juga memperlihatkan kesiapan Pupuk Kujang dalam menghadapi tantangan global terkait transisi energi dan tuntutan industri rendah emisi.
Implementasi manajemen energi dan produksi yang efisien berdampak langsung terhadap stabilitas stok pupuk di berbagai daerah, khususnya di Jawa Barat.
Berdasarkan data per 6 Mei 2026, total stok pupuk bersubsidi di Jawa Barat mencapai 26.998 ton.
Jumlah tersebut terdiri dari: Urea: 23.982 ton dan NPK: 3.015,8 ton. Ketersediaan stok ini dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan petani dan mendukung aktivitas pertanian di berbagai wilayah Jawa Barat.
Wilayah Pantura Jawa Barat yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi padi nasional menjadi fokus utama distribusi pupuk bersubsidi.
Pupuk Kujang menyiagakan total stok pupuk bersubsidi sebanyak 4.258 ton di kawasan Pantura. Rinciannya meliputi Urea: 3.790 ton dan NPK: 467,9 ton.
Distribusi stok tersebut tersebar di sejumlah daerah strategis, di antaranya Karawang Urea 794 ton, NPK: 261,5 ton. Subang Urea 1.479,9 ton, NPK 206,45 ton. Indramayu Urea 1.516,40 ton.
Keberadaan stok pupuk di wilayah Pantura menjadi sangat penting karena daerah ini memiliki kontribusi besar terhadap produksi beras nasional.
Selain Pantura, wilayah Priangan Timur juga dipastikan memiliki stok pupuk yang aman untuk mendukung musim tanam petani.
Total stok pupuk Urea di Priangan Timur mencapai 6.204 ton yang tersebar di beberapa daerah, yakni Garut: 2.505 ton. Tasikmalaya 1.432,7 ton, Ciamis 438 ton, Banjar 1.487,5 ton, Pangandaran 340 ton.
Ketersediaan pupuk yang stabil tersebut diharapkan mampu menjaga produktivitas pertanian serta mendukung target ketahanan pangan nasional.
“Pupuk Kujang terus berkomitmen menjadi pilar stabilitas pangan nasional melalui manajemen operasional yang efisien, inovatif, dan berwawasan lingkungan,” kata Arlyza. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

