Sherin Arzia, Santriwati Majelis Taklim Tunanetra Al Hikmah Tasikmalaya Menuju Panggung Dakwah Nasional
Sherin Arzia Santriwati yang akrab di sapa Hany saat mununjukkan Al Qur'an Braille di Majelis Taklim Tunanetra Al Hikmah Tasikmalaya , Jumat (29/5/2026) pagi. (FOTO : Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

Sherin Arzia, Santriwati Majelis Taklim Tunanetra Al Hikmah Tasikmalaya Menuju Panggung Dakwah Nasional

Remaja 17 tahun yang akrab disapa Hany ini, menyisihkan ratusan peserta dari berbagai penjuru tanah air sejak proses seleksi daring dimulai pada awal Mei lalu.

TIMES Tasikmalaya,Jumat 29 Mei 2026, 10:52 WIB
778
H
Harniwan Obech

TASIKMALAYADari sebuah sudut majelis taklim bersahaja di Kabupaten Tasikmalaya, seorang remaja tunanetra merajut untaian ayat menjadi syiar. Di balik pekat yang menyelimuti pandangan, ia menembus dinding batas kompetisi nasional.

Di dalam ruang tengah sebuah rumah sederhana di Perum Tata Lestari, Blok C 21, Cikadongdong, Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, gawai pintar itu terus bergetar. 

Sebuah pesan singkat melalui aplikasi WhatsApp masuk, membawa surat keputusan yang seketika mengubah atmosfer ruangan menjadi penuh haru. Air mata seorang ibu tumpah, bukan karena duka, melainkan akibat rasa syukur yang membuncah.

Surat digital dari panitia pusat itu memastikan nama Sherin Arzia, remaja putri kelahiran 28 April 2009, resmi melaju ke babak Grand Final Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) dan Lomba Dakwah Disabilitas Tingkat Nasional Tahun 2026. 

Remaja 17 tahun yang akrab disapa Hany ini, menyisihkan ratusan peserta dari berbagai penjuru tanah air sejak proses seleksi daring dimulai pada awal Mei lalu.

Ajang bergengsi yang digelar dalam rangka Milad ke-48 Majelis Dakwah Islamiyah (MDI) ini bukan kompetisi biasa.

Memperebutkan piala dan penghargaan dari Ketua Majelis A’la MDI, H. Bahlil Lahadalia, perhelatan ini menjadi ruang pembuktian bagi talenta-talenta disabilitas di Indonesia yang selama ini kerap luput dari sorotan panggung utama publik. 

article
Sherin Arzia Santriwati Majelis Taklim Tunanetra Al Hikmah Tasikmalaya saat membaca Al Qur'an Braille Bersama beberapa satriwati, Jumat (29/5/2026) pagi. (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

Bagi Kota dan Kabupaten Tasikmalaya, keberhasilan Hany adalah oase prestasi yang membawa nama harum daerah ke kancah nasional. Bagi lingkungan sosialnya, Sherin bukan sekadar peserta lomba. Ia adalah simbol keteguhan. 

Sejak kecil, takdir membawanya hidup dalam keterbatasan penglihatan. Namun, di bawah asuhan para guru Ustad Mamah Rahmat di Majelis Taklim Tunanetra Al Hikmah Kota Tasikmalaya, kegelapan visual itu ia konversi menjadi ketajaman spiritual dan kemampuan olah vokal dakwah yang memikat.

Majelis Taklim Al Hikmah selama ini dikenal konsisten bergerak dalam senyap, membina para santri disabilitas agar mampu mandiri, memahami ilmu agama secara mendalam, serta memiliki ruang untuk unjuk prestasi. 

Di sinilah daya pikat public speaking, penguasaan materi keislaman, dan mentalitas bertanding Sherin ditempa secara intensif. Di tempat ini pula, ia belajar bahwa berdakwah tidak membutuhkan kesempurnaan fisik, melainkan ketulusan hati yang memancar lewat artikulasi lisan.

Dukungan keluarga menjadi jangkar utama dalam perjalanan Sherin. Sebagai putri dari pasangan keluarga sederhana, dorongan moral yang tiada henti membuat Hany tumbuh menjadi pribadi yang penuh percaya diri. Ia tak canggung bersaing di ruang digital maupun panggung fisik.

“Alhamdulillah Yaa Allah Yaa Robb, Hany lolos masuk grand final dakwah tingkat nasional. Mohon doanya semoga Allah SWT memberikan kemudahan, kelancaran dan keberkahan ilmunya untuk lomba dakwah Hany...”

Untaian kalimat di atas dikirimkan oleh Seha Saleha  ibunda Sherin kepada keluarga besar dan kerabat dekat sesaat setelah pengumuman resmi dirilis. 

Pesan penuh emosi itu merefleksikan betapa panjangnya ikhtiar yang telah dilalui oleh keluarga ini demi mendukung sang anak agar tetap tegak berdiri di mimbar-mimbar syiar. 

Sang ibu juga menyelipkan doa agar putrinya selalu diberikan kesehatan fisik sepanjang bulan Juni 2026 yang padat.

Langkah Sherin menuju podium juara dipastikan tidak akan mudah. Berdasarkan keputusan dewan juri yang bersifat mutlak dan profesional setelah melalui penilaian ketat, ia akan berhadapan dengan dua finalis terbaik lainnya di kategori Dakwah Putri Tingkat Nasional. 

article
Sejumlah Santriwati Majelis Taklim Tunanetra Al Hikmah Tasikmalaya saat membaca Al Qur'an Braille Bersama beberapa satriwati, Jumat (29/5/2026) pagi. (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

Mereka adalah representasi ketangguhan dari wilayah barat dan timur Nusantara. Daftar Finalis Kategori Dakwah Putri Nasional 2026 yang akan mengadu skill dengan Sherin Arzia (Jawa Barat / Tasikmalaya)diantaranya Nanda Melissa Putri (Kalimantan Barat) dan Neyla Putri Viona (Jawa Timur).

Seha Saleha kepada TIMES Indonesia mengatakan Awalnya, panitia mengagendakan babak final pada awal Juni sesuai dengan timeline awal pasca-pendaftaran (13–26 April 2026). 

Namun, lewat maklumat perubahan jadwal terbaru, puncak kompetisi digeser. Lokasi perhelatan pun dipilih di tempat yang sarat nilai historis keagamaan Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, Purworejo, Jawa Tengah, pada 18–19 Juni 2026. 

Pergeseran ini memberikan waktu tambahan bagi para finalis untuk menajamkan visualisasi narasi dakwah mereka. Bulan Juni 2026 tampaknya akan menjadi fase yang menguras energi sekaligus menguji mentalitas Sherin. 

Selain mempersiapkan materi matang untuk keberangkatan ke Jawa Tengah, jadwal domestik yang padat telah menantinya di daerah asal.

Hanya berselisih beberapa pekan sebelum grand final nasional digelar, Sherin juga dijadwalkan turun memperkuat kafilahnya dalam ajang Lomba MTQ Tingkat Kota Tasikmalaya yang akan berlangsung pada 7 Juni 2026. 

Agenda ganda ini menuntut fokus tinggi, mengingat kedua ajang memiliki format dan tensi kompetisi yang sama-sama kompetitif.

Dukungan kolektif kini mengalir dari masyarakat Tasikmalaya. Kehadiran Sherin Arzia di kancah nasional dinilai bukan sekadar urusan menang atau kalah dalam sebuah perlombaan. 

Lebih jauh, ia menjadi pemantik kesadaran publik—atau dalam istilah yang sering digaungkan institusi keagamaan sebagai bukti nyata inklusivitas syiar Islam.

Ajang MTQ dan Lomba Dakwah Disabilitas Tingkat Nasional 2026 ini sendiri melombakan spektrum yang luas, mulai dari Murotal, Tilawah, Tahfidz untuk kelompok Tuna Netra, Tuna Daksa, hingga Tuna Wicara/Rungu. 

Di balik keterbatasan netranya, Sherin hadir membuktikan bahwa resonansi dakwah yang lahir dari keteguhan jiwa mampu melampaui batas pandangan mata, mengetuk hati siapa saja yang mendengarnya. 

Kini, publik Jawa Barat menanti, apakah ketulusan syiar dari Tasikmalaya ini mampu mengguncang podium tertinggi di Purworejo nanti. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Harniwan Obech
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Tasikmalaya, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.