Dari Gang Sempit Cintarasa, Cahaya Al-Qur’an Braille Menyala untuk Tunanetra Tasikmalaya
Sejumlah jamaah Majelis Taklim Tunanetra saat melaksanakan tadarus Braille, Sabtu (7/3/2026) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

Dari Gang Sempit Cintarasa, Cahaya Al-Qur’an Braille Menyala untuk Tunanetra Tasikmalaya

Di gang sempit Kampung Cintarasa, Tasikmalaya, Majelis Taklim Tunanetra Al-Hikmah menjadi ruang para tunanetra belajar dan menghafal Al-Qur’an Braille, menyalakan cahaya iman tanpa batas.

TIMES Tasikmalaya,Minggu 8 Maret 2026, 01:02 WIB
245
H
Harniwan Obech

TASIKMALAYADi sebuah gang kecil yang tenang di kawasan Kahuripan, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar lembut dari sebuah rumah sederhana di gang sempit Kampung Cintarasa.

Tidak ada bangunan megah. Tidak ada fasilitas modern. Hanya sebuah ruang tamu kecil dengan karpet yang digelar di lantai.

Namun ruangan sederhana itu telah disulap menjadi tempat puluhan penyandang tunanetra menimba ilmu membaca Al-Qur’an Braille.

Dari tempat yang tampak biasa itu, lahir kisah keteguhan yang menggetarkan hati.

Puluhan jamaah duduk bersila membentuk lingkaran kecil. Jari-jari mereka perlahan menyusuri halaman kitab suci yang dipenuhi titik-titik timbul.

Kitab tersebut adalah Al-Qur’an Braille, mushaf khusus yang memungkinkan penyandang tunanetra membaca firman Allah melalui sentuhan jari.

Mereka tergabung dalam kegiatan pembinaan Majelis Taklim Tunanetra Al-Hikmah Tasikmalaya yang dibimbing oleh Ustaz Mamat Rahmat.

Bagi para jamaah di tempat ini, membaca Al-Qur’an bukan sekadar ibadah, ini adalah perjalanan panjang melawan keterbatasan fisik, stigma sosial, serta minimnya fasilitas pembelajaran bagi penyandang disabilitas.

Berbeda dengan mushaf biasa, huruf dalam Al-Qur’an Braille terdiri dari kombinasi titik-titik kecil yang harus diraba menggunakan jari.

Metode ini berasal dari sistem huruf timbul yang ditemukan oleh Louis Braille pada abad ke-19 untuk membantu penyandang tunanetra membaca dan menulis.

Dalam mushaf Braille, setiap huruf Arab direpresentasikan oleh pola enam titik yang berbeda, namun mempelajari sistem ini bukan hal mudah.

Saat ditemui TIMES Indonesia di sela kegiatan tadarus Braille, Ustaz Mamat Rahmat mengungkapkan bahwa proses belajar membaca Al-Qur’an bagi tunanetra membutuhkan waktu yang jauh lebih lama.

“Kalau orang yang bisa melihat belajar membaca Al-Qur’an mungkin beberapa bulan sudah lancar. Tapi bagi jamaah tunanetra, satu huruf saja kadang perlu latihan berkali-kali,” ujarnya, Sabtu (7/3/2026) malam.

Ia memahami kesulitan tersebut bukan sekadar teori. Ustad Mamat sendiri kehilangan penglihatannya sejak usia empat tahun akibat sakit panas tinggi yang dideritanya.

Pengalaman itu membuatnya memahami betul perjuangan para jamaahnya.

Sebagian besar dari mereka bahkan baru mengenal huruf Braille setelah kehilangan penglihatan di usia dewasa.

“Banyak yang harus memulai dari nol. Jadi mereka belajar huruf Braille sekaligus belajar membaca Al-Qur’an,” katanya.

Di antara para jamaah yang hadir, terdapat seorang remaja perempuan berusia 16 tahun bernama Sherin Arzia.

Sherin Arzia yang akrab disapa Pingki duduk dengan tenang sambil meraba halaman mushaf Braille di pangkuannya.

Seperti sang ustaz, Pingki tidak terlahir sebagai tunanetra. Ia kehilangan penglihatannya setelah mengalami keracunan  oksigen sewaktu dirawat disalah satu Rumah Sakit karena sakit panas tinggi beberapa tahun lalu.

“Waktu itu saya sakit panas tinggi. Setelah sembuh, penglihatan saya mulai kabur sampai akhirnya tidak bisa melihat sama sekali,” tutur Pingki dengan suara pelan.

article
Jari jemari seorang jamaah Majelis Taklim Tunanetra Al Hikmah saat membaca Al Qur'an Braille, Sabtu (7/3/2026) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

Peristiwa itu menjadi titik balik dalam hidupnya. Kehilangan penglihatan di usia remaja membuatnya sempat mengalami masa-masa sulit.

Ia merasa dunia yang sebelumnya terang tiba-tiba berubah menjadi gelap.

“Awalnya saya sedih sekali. Rasanya seperti dunia tiba-tiba gelap. Saya tidak tahu harus melakukan apa,” katanya.

Pingki hanya tinggal bersama ibu dan satu kakak perempuannya,  karena sang ayah telah meninggal dunia akibat kecelakaan kerja di perusahaan tambang di Papua.

Meski hidup sebagai anak yatim, dukungan sang ibu menjadi kekuatan terbesar dalam hidupnya.

Sang ibu dengan sabar mengantarkannya setiap minggu ke majelis taklim agar ia tetap memiliki semangat belajar.

Ketika pertama kali datang ke Majelis Taklim Tunanetra Al-Hikmah, Pingki sama sekali belum mengenal huruf Braille.

Ia harus belajar dari dasar. Mulai dari mengenali pola titik hingga membaca kata sederhana dan prosesnya tidak mudah.

“Awalnya jari saya sering sakit karena belum terbiasa meraba huruf Braille. Kadang saya sulit membedakan titik-titiknya,” kata Pingki.

Namun ia tidak menyerah. Dengan bimbingan Ustad Mamat Rahmat serta dukungan teman-teman sesama jamaah, Pingki terus berlatih membaca mushaf Braille.

Kini ia sudah mampu membaca Al-Qur’an dengan cukup lancar dan sudah hapal Al Qur,an sebanyak 15 juz. Bahkan ia mulai menghafal beberapa surat pendek.

“Alhamdulillah sekarang saya merasa lebih tenang. Mengaji membuat hati saya kuat lagi,” ujarnya.

Selain mengikuti kegiatan majelis taklim, Pingki juga menempuh pendidikan di SLB Bahagia Tasikmalaya.

Meski semangat belajar para jamaah sangat tinggi, komunitas ini masih menghadapi berbagai keterbatasan.

Salah satunya adalah jumlah mushaf Braille yang masih sangat terbatas. Sebagian mushaf bahkan sudah rusak karena titik timbulnya mulai aus akibat sering digunakan.

Akibatnya huruf-huruf Braille menjadi sulit diraba, dsamping itu harga satu set Al-Qur’an Braille juga tidak murah. Satu set mushaf Braille biasanya terdiri dari banyak jilid tebal dan bisa mencapai jutaan rupiah.

Hal ini membuat komunitas sulit menambah koleksi mushaf baru. “Kadang satu mushaf dipakai beberapa orang. Mereka harus bergantian membaca,” kata Ustaz Mamat Rahmat.

article
Sejumlah jamaah Majelis Taklim Tunanetra Al Hikmah duduk berderet saat membaca Al Qur'an Braille, Sabtu (7/3/2026) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

Kondisi tersebut membuat proses belajar menjadi lebih lambat. Namun semangat para jamaah tidak pernah surut.

Bagi para penyandang tunanetra di Tasikmalaya, Majelis Taklim Al-Hikmah bukan hanya tempat belajar agama. Rumah ini juga menjadi ruang sosial yang memberi harapan.

Menurut Ustaz Mamat, terdapat sekitar seratus lebih jamaah yang pernah mengikuti kegiatan di majelis ini.

Banyak dari mereka yang sebelumnya merasa terisolasi. “Di majelis ini mereka saling menguatkan. Mereka merasa punya keluarga baru,” ujarnya.

Para jamaah tidak hanya belajar membaca Al-Qur’an, tetapi juga saling berbagi pengalaman hidup.

Di tempat ini, mereka menemukan kembali rasa percaya diri yang sempat hilang.

Ketika bulan Ramadan tiba, kegiatan majelis taklim semakin ramai. Para jamaah berkumpul untuk melakukan berbagai kegiatan ibadah seperti tadarus Braille, kajian agama, hingga diskusi keislaman.

Menurut Ustaz Mamat Rahmat, Ramadan selalu membawa semangat baru bagi para jamaah.

“Bulan Ramadan membuat mereka semakin bersemangat mendekatkan diri kepada Al-Qur’an,” katanya.

Bagi komunitas ini, Ramadan bukan hanya momen ibadah tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat kebersamaan..

Meski berada di ruangan kecil dengan fasilitas terbatas, majelis ini memiliki mimpi besar. Mereka ingin melahirkan hafiz Al-Qur’an dari kalangan tunanetra.

Beberapa anggota bahkan sudah mulai menghafal beberapa juz. Menurut Ustaz Mamat, keterbatasan fisik tidak pernah menjadi penghalang untuk meraih prestasi spiritual.

Ia mengingatkan bahwa dalam sejarah Islam, banyak ulama besar yang juga memiliki keterbatasan fisik namun mampu memberikan kontribusi besar bagi umat.

“Yang penting adalah ketekunan dan keikhlasan,” katanya.

Cahaya yang Tidak Pernah Padam

Malam perlahan turun di Gang Cintarasa. Namun suara lantunan ayat suci masih terus terdengar dari ruangan sederhana itu.

Jari-jari para jamaah terus meraba huruf timbul dengan penuh kesabaran. Tidak ada keluhan. Tidak ada putus asa. Hanya keyakinan bahwa setiap usaha mendekat kepada Al-Qur’an adalah cahaya yang menerangi kehidupan.

Menutup kegiatan malam itu, Ustaz Mamat Rahmat menyampaikan pesan yang selalu ia ulang kepada para jamaahnya.

“Mata boleh saja tidak melihat, tetapi hati harus tetap bercahaya dengan Al-Qur’an.”

Bagi Pingki, perjalanan hidupnya kini memiliki makna baru.

“Saya memang tidak bisa melihat lagi. Tapi lewat Al-Qur’an, saya merasa menemukan cahaya yang berbeda dalam hidup saya,” katanya.

Di tengah gang sempit Kampung Cintarasa, cahaya itu terus menyala.
Pelan.
Namun tidak pernah padam.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Harniwan Obech
|
Editor:Hendarmono Al Sidarto

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Tasikmalaya, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.