Menjemput Rezeki dari Arus Sungai Ciwulan
Dalam kondisi normal, harga kopra per kilogram berkisar antara Rp6.000 hingga Rp7.000. Namun saat pasokan kelapa menipis, harga bisa melonjak drastis Rp19 ribu.
TASIKMALAYA – Di tepian Sungai Ciwulan, tepatnya di Kampung Leuwibudah, Kelurahan Tanjung, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, tampak seorang laki-laki setengah baya sibuk mengumpulkan kelapa-kelapa yang hanyut terbawa arus di antara tumpukan sampah plastik.
Di bawah rimbun pepohonan dan suara gemericik air sungai, pria setengah baya dengan cekatan memungut satu per satu buah kelapa yang tersangkut di bantaran.
Pria setengah baya itu adalah Wahyu Suhendi (56). Bagi sebagian orang, kelapa hanyut mungkin sekadar limbah alam. Namun bagi Wahyu, itulah sumber penghidupan yang telah ia geluti puluhan tahun.
Wahyu Suhendi bukanlah warga asli Leuwibudah. Ia berasal dari Kampung Sukahurip, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, perjalanannya ke Leuwibudah bermula dari ikatan pernikahan.
“Abdi mah asli ti Sukahurip, Cipatujah, abdi nikah ka bojo orang Leuwi budah tahun 1988 (Saya asli warga Kampung Sukahurip, Kecamatan Cipatujah. Lalu saya menikah sama orang Leuwibudah pada tahun 1988),” tutur Wahyu membuka kisah hidupnya saat ditemui di saung kopra miliknya. Minggu (15/2/2026).
Sebelum menetap di Leuwibudah, Wahyu telah lebih dulu mengenal dunia perkoperaan. Selama enam tahun tinggal di Cipatujah, ia merintis usaha sebagai perajin kopra secara mandiri. Sebagai informasi, kopra adalah daging buah kelapa yang dikeringkan dan merupakan bahan baku utama pembuatan minyak kelapa mentah (Crude Coconut Oil/CNO), minyak goreng, kosmetik, sabun, dan bahan farmasi. Kopra juga diolah menjadi bungkil kopra sebagai bahan pakan ternak.
Keahlian itu tidak ia tinggalkan begitu saja setelah menikah. Justru, usaha tersebut ia lanjutkan dan kembangkan di lingkungan barunya.
Tinggal di dekat aliran Sungai Ciwulan memberi Wahyu satu keuntungan besar, pasokan kelapa yang nyaris tak pernah putus.

Setiap musim, terutama saat hujan dan debit sungai meningkat, banyak kelapa dari hulu hanyut dan berakhir di bantaran sungai.
“Sayang kalau tidak dimanfaatkan. Banyak limbah kelapa yang hanyut di Ciwulan,” ujarnya.
Dari situlah Wahyu memanfaatkan apa yang tersedia di alam. Kelapa-kelapa tersebut kemudian ia kumpulkan dan disimpan di saung pengasapan miliknya.
Proses pembuatan kopra, menurut Wahyu, sebenarnya tidak terlalu lama. Tantangan terbesarnya justru terletak pada tahap awal, seperti mencongkel daging kelapa dari batoknya.
“Kalau proses pengasapan paling berkisar 3 sampai 6 jam, apalagi kalau api dari tungkunya besar,” terang Wahyu.
Saung pengasapan yang ia bangun dibantaran sungai mampu menampung hingga 1.000 butir kelapa. Dari jumlah tersebut, setelah melalui proses pengasapan, akan dihasilkan sekitar 200 kilogram kopra siap jual.
Hasil ini sangat bergantung pada ukuran dan tingkat kematangan kelapa.
“Kalau kelapanya besar, lima buah bisa jadi satu kilo kopra. Tapi tergantung juga, kelapanya tua sekali atau masih kurang tua,” jelasnya.
Kopra hasil olahan Wahyu biasanya dijual ke toko hasil bumi di sekitar Terminal Cilembang, salah satu pusat aktivitas perdagangan di Kota Tasikmalaya.
Harga kopra di pasaran menirutnya cenderung fluktuatif, dalam kondisi normal, harga per kilogram berkisar antara Rp6.000 hingga Rp7.000.
Namun saat pasokan kelapa menipis, harga bisa melonjak drastis. “Kalau kelapa lagi susah, bisa sampai Rp19 ribu, bahkan pernah hampir Rp20 ribu per kilo,” ungkap Wahyu.
Kondisi ini menjadi bukti bahwa komoditas sederhana seperti kopra tetap memiliki nilai ekonomi tinggi, terutama ketika bahan baku terbatas.
Dari usaha kopra inilah Wahyu membesarkan keluarganya. Ia dikaruniai lima orang anak, tiga di antaranya kini telah menikah dan hidup mandiri. Meski penghasilan tidak selalu besar dan stabil, Wahyu mensyukurinya.
“Ya penghasilan dari kopra dicukup-cukupkan saja, sebab kelapa itu selalu ada,” katanya dengan nada tenang.
Bagi Wahyu, kopra bukan sekadar usaha ekonomi, melainkan simbol ketekunan dan adaptasi hidup. Ia membaca peluang dari alam sekitar, memanfaatkan apa yang kerap diabaikan, dan menjadikannya sumber nafkah yang berkelanjutan.
Kisah Wahyu Suhendi menjadi potret kecil ekonomi rakyat di bantaran Sungai Ciwulan. Di tengah arus modernisasi dan persaingan industri besar, masih ada tangan-tangan sederhana yang bekerja dalam senyap, menjaga denyut ekonomi lokal.
Usaha kopra tradisional seperti yang dijalani Wahyu tidak hanya menopang keluarga, tetapi juga menunjukkan bahwa potensi lokal bahkan yang hanyut di sungai dapat menjadi sumber kehidupan, asalkan ada ketekunan, pengalaman, dan kemauan untuk bertahan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.


