Munggahan Inklusif di Kota Tasikmalaya, Ratusan Disabilitas Susuri Lorong Mall Asia Plaza
Munggahan inklusif di Tasikmalaya: ratusan penyandang disabilitas berbelanja mandiri di Mall Asia Plaza dan rekreasi di Tee Jay Water Park, belajar percaya diri di ruang publik.
TASIKMALAYA – Pegangan tangan relawan terasa hangat di antara keramaian. Suara langkah kaki perlahan menyatu dengan hiruk-pikuk pusat perbelanjaan. Di depan pintu utama Mall Asia Plaza Kota Tasikmalaya, ratusan anak berkebutuhan khusus berdiri berbaris rapi.
Ada yang menggenggam tongkat putih, ada pula yang duduk di kursi roda. Wajah-wajah polos itu menyimpan satu hal yang samabyakni kegembiraan menyambut Ramadan.
Satu per satu mereka memasuki kawasan supermarket. Bukan sebagai tontonan, bukan pula sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai individu yang sedang belajar mandiri.
Inilah potret Munggahan inklusif yang digagas Paguyuban Pegiat Disabilitas Tasikmalaya (Papeditas), sebuah kegiatan yang mengubah lorong mall menjadi ruang pembelajaran sosial yang bermartabat.
Menjelang bulan suci Ramadan, masyarakat Sunda mengenal tradisi Munggahan ritual turun-temurun sebagai wujud rasa syukur dan persiapan batin. Umumnya diisi dengan makan bersama, silaturahmi, dan doa.
Namun di Kota Tasikmalaya, tradisi ini dihidupkan dengan cara yang lebih luas dan inklusif.
Ratusan penyandang disabilitas netra dan tuna daksa dari Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kabupaten Ciamis diajak merasakan Munggahan melalui pengalaman nyata yakni berbelanja mandiri di pusat perbelanjaan modern.
Ketua Papeditas Kota Tasikmalaya, H. Tata Tajudin didampingi sekretaris Papeditas Aris Rahman menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar simbolik.
“Munggahan adalah tentang kesiapan lahir dan batin. Kami ingin penyandang disabilitas merasakan proses itu secara utuh, dengan rasa percaya diri dan kebahagiaan,” ujarnya, didampingi Sekretaris Papeditas Aris Rahman. Rabu (11/2/2026)
Di dalam Mall Asia Plaza, para peserta mulai menyusuri lorong-lorong toko. Dengan pendampingan relawan, penyandang disabilitas netra meraba rak, mengenali kemasan, dan bertanya harga.
Mereka memilih makanan ringan, kebutuhan harian, hingga minuman kemasan sesuai sesuai selera masing-masing.

Bagi sebagian peserta, ini adalah pengalaman pertama berinteraksi langsung dengan sistem belanja modern mengantre di kasir, menyebutkan pilihan barang, hingga menerima kembalian.
Sementara itu, penyandang tuna daksa menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk hadir dan beraktivitas di ruang publik. Kursi roda melaju di sela keramaian, disambut senyum pengunjung dan petugas toko.
Ekspresi bahagia tak terbantahkan, Ada tawa kecil saat transaksi berhasil, ada rasa bangga ketika kantong belanja digenggam sendiri. Momen-momen sederhana itu menjadi latihan kepercayaan diri yang nilainya jauh lebih besar dari barang yang dibeli.
Sebagai komunitas pegiat disabilitas, Papeditas telah lama bergerak di bidang sosial, edukasi, dan advokasi.
Mereka mendorong agar isu disabilitas tidak lagi ditempatkan dalam narasi kasihan, tetapi kesetaraan.
“Inklusi bukan hanya soal ramp atau toilet khusus. Inklusi adalah soal kesempatan dan kepercayaan,” ungkap perwakilan Papeditas.
Melalui kegiatan Munggahan ini, Papeditas ingin mengirim pesan kuat bahwa penyandang disabilitas adalah subjek pembangunan sosial, bukan penonton pasif.
Sebelum menyusuri lorong mall, ratusan peserta terlebih dahulu menikmati kebersamaan di Tee Jay Water Park, destinasi wisata air unggulan di Kota Tasikmalaya.
Kegiatan ini bertepatan dengan Anniversary ke-15 Tee Jay Water Park, menambah nuansa perayaan dan kegembiraan.
Pemilihan Tee Jay Water Park dan Mall Asia Plaza dinilai tepat karena keduanya merupakan ruang publik strategis yang relatif mudah diakses oleh penyandang disabilitas.
Chief Operational Objek Wana Wisata Air Tee Jay Water Park, Dicky Purnama, menilai kegiatan ini memiliki dampak sosial yang luas.
“Kehadiran penyandang disabilitas di ruang publik seperti ini menjadi edukasi langsung bagi masyarakat. Ini cara paling efektif membangun empati,” ujarnya.
Mall sebagai Ruang Empati Sosial
Selama kegiatan berlangsung, suasana mall terasa berbeda. Pengunjung tampak lebih peka.
Ada yang menawarkan bantuan, ada yang menyapa, ada pula yang memberi tepuk semangat. Tanpa dikomando, tercipta interaksi sosial yang hangat dan manusiawi.
Di penghujung kegiatan, seluruh peserta dan pendamping berkumpul untuk doa bersama. Sebuah penutup yang sederhana namun sarat makna menandai kesiapan menyambut Ramadan dengan hati yang lebih bersih.
"Bagi kami, Munggahan inklusif ini bukanlah akhir, melainkan awal. Mereka berharap kegiatan serupa dapat direplikasi oleh komunitas lain, pelaku usaha, hingga pemerintah daerah." pungkasnya.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.


