Hari Air Sedunia 2026, FKDAS Tasikmalaya: Alarm Krisis Air di Tasikmalaya
Air bukan sekadar kebutuhan, melainkan fondasi utama kehidupan.
TASIKMALAYA – Air bukan sekadar kebutuhan, melainkan fondasi utama kehidupan. Dari aktivitas sederhana seperti minum, memasak, hingga menjaga kebersihan lingkungan, semuanya bergantung pada ketersediaan air yang bersih dan berkelanjutan.
Namun, di balik kemudahan akses yang dirasakan sebagian masyarakat, tersimpan persoalan besar yang kini mulai mengkhawatirkan.
Momentum Hari Air Sedunia 2026 yang diperingati setiap 22 Maret menjadi refleksi penting bagi berbagai pihak, termasuk di Kota Tasikmalaya, untuk kembali menyadari betapa krusialnya menjaga sumber daya air di tengah ancaman pencemaran yang semakin nyata.
Ketua FKDAS Kota Tasikmalaya, H. Sigit Wahyu Nadika, menegaskan bahwa air merupakan elemen vital yang tidak bisa dipisahkan dari keberlangsungan hidup manusia dan lingkungan.
Menurutnya, masyarakat sering kali hanya melihat kemudahan saat membuka keran atau mendapatkan air bersih, tanpa menyadari proses panjang yang terjadi di baliknya.
“Di balik kemudahan yang kita rasakan saat mengakses air bersih, terdapat proses panjang serta tanggung jawab besar untuk menjaga ketersediaan dan kualitasnya,” ujarnya saat merespons peringatan Hari Air Sedunia 2026.
Ia mengajak masyarakat untuk mulai dari langkah sederhana dalam menjaga air, seperti menggunakan air secara bijak
Tidak berlebihan dalam pemakaian
Menjaga lingkungan sekitar sumber air.
Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten, kata dia, akan memberikan dampak besar bagi keberlanjutan kehidupan di masa depan.
Sementara itu, peringatan keras datang dari Presiden Republik Aer Tasikmalaya, Harniwan Obech, yang menyoroti kondisi air di Tasikmalaya yang semakin memprihatinkan.
Ia mengungkapkan bahwa Sungai Ciwulan kini terindikasi dalam kondisi darurat pencemaran mikroplastik.
“Kita prihatin Sungai Ciwulan di Tasikmalaya terindikasi darurat pencemaran mikroplastik, dengan temuan 180 partikel per 100 liter air. Itu hasil penelitian dari Ecoton bersama komunitas Republik Aer beberapa tahun lalu,” ungkapnya.
Temuan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa pencemaran air telah memasuki tahap serius dan membutuhkan penanganan segera.
Pencemaran mikroplastik di Sungai Ciwulan tidak terjadi begitu saja. Sumber utamanya berasal dari sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik kemudian limbah rumah tangga, terutama detergen
Fragmentasi plastik menjadi partikel kecil (<5 mm).
"Pencemaran ini berasal partikel mikroplastik ini berbentuk Filamen, serat fragmen,"terang Obech.
Yang lebih mengkhawatirkan menurut Ibech mikroplastik dapat masuk ke dalam rantai makanan manusia melalui ikan yang hidup di perairan tercemar.
Dampaknya tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan bagi manusia.
Selain itu, tingginya kandungan fosfat dari detergen rumah tangga turut memperparah kondisi perairan, memicu eutrofikasi dan menurunkan kualitas air.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa krisis air bukan lagi isu masa depan, melainkan realitas yang sedang dihadapi saat ini.
Baik FKDAS maupun komunitas lingkungan menekankan pentingnya kesadaran kolektif, mulai dari individu hingga pemerintah, untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mengelola limbah rumah tangga dengan baik dan menjaga kebersihan sungai dan sumber air serta mengedukasi masyarakat tentang bahaya mikroplastik. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

