Bus Wisata 'Ngulisik' Jadi Kelas Akademik, Cara Unik Mahasiswa Unsil Pelajari Investasi
TASIKMALAYA – Inovasi pembelajaran kembali ditunjukkan oleh civitas akademika Universitas Siliwangi (Unsil) Tasikmalaya.
Bus wisata ikonik 'Ngulisik' yang biasanya digunakan untuk mengantar wisatawan mengelilingi titik-titik bersejarah di Kota Tasikmalaya, mendadak berubah fungsi menjadi ruang diskusi akademik yang dinamis dan inspiratif.
Sebanyak 48 mahasiswa Program Studi Manajemen Kelas C Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsil melaksanakan kuliah lapangan unik dalam mata kuliah Teori Investasi & Portofolio.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pembelajaran tidak harus selalu berlangsung di dalam kelas, tetapi dapat dikembangkan secara kontekstual dengan memanfaatkan potensi daerah.
Selama kurang lebih 90 menit, mahasiswa diajak berkeliling menggunakan bus Ngulisik sambil mendiskusikan konsep penting dalam dunia investasi, seperti real asset valuation dan sustainable investing.
Alih-alih hanya berkutat pada angka dan grafik di layar komputer, mahasiswa diajak untuk memahami nilai intrinsik dari aset nyata seperti situs sejarah, budaya lokal, dan potensi ekonomi kreatif yang dimiliki Kota Tasikmalaya.

Salah satu mahasiswa, Fika, mengungkapkan bahwa pengalaman belajar di atas bus memberikan perspektif baru dalam memahami investasi.
“Biasanya kami menghitung risiko di depan layar monitor. Di sini, kami belajar memahami nilai intrinsik dari sesuatu yang berwujud, seperti situs budaya. Ini membuka mata kami bahwa portofolio masa depan harus mempertimbangkan aspek keberlanjutan,” ujarnya. Selasa
,Tine Badriatin, SSos, MSi, MM, salah satu dosen pengampu mata kuliah menegaskan bahwa kemampuan analisis investasi tidak boleh terbatas pada instrumen keuangan di pasar modal saja.
Menurutnya, mahasiswa perlu memahami bahwa investasi juga mencakup aset non-finansial yang memiliki nilai jangka panjang.
“Kami ingin mahasiswa memiliki kepekaan bahwa investasi juga mencakup aset non-finansial. Melalui bus Ngulisik, mereka belajar melakukan asset appraisal terhadap situs sejarah,” jelas Tine.
Ia juga menambahkan bahwa strategi pelestarian budaya dapat dipandang sebagai bentuk lindung nilai (hedging) terhadap risiko modernisasi.
“Ini sangat relevan dengan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) Investing, di mana keberlanjutan menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan investasi,” tambahnya.
Sementara itu Ketua Jurusan Manajemen FEB Unsil, R Lucky Radi Rinandiyana, SE, MSi, memberikan apresiasi tinggi terhadap inovasi pembelajaran ini. Ia menilai pendekatan tersebut mampu menghubungkan teori ekonomi dengan realitas di lapangan.
“Mahasiswa diajak memahami bahwa diversifikasi portofolio ekonomi daerah sangat bergantung pada kekuatan ekonomi kreatif dan kearifan lokal. Ini adalah cara kami menyiapkan manajer masa depan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tapi juga adaptif,” tegas Lucky.
Menurutnya, integrasi antara kurikulum dan potensi daerah menjadi kunci dalam menciptakan lulusan yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Pembelajaran Holistik
Kesuksesan pada kegiatan ini tidak lepas dari kolaborasi antara akademisi dengan Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia (GIBEI) FEB Unsil serta Management Student Organization (MSO).
Perwakilan MSO menyampaikan bahwa keterlibatan mereka merupakan bagian dari komitmen dalam mendukung pengembangan akademik mahasiswa.
“Kami ingin memastikan setiap mahasiswa Manajemen memiliki pengalaman belajar yang holistik, tidak hanya di dalam ruang kelas, tapi juga terjun langsung melihat aset ekonomi kota,” ujarnya.
Sementara itu, GIBEI FEB Unsil memberikan penguatan materi terkait pentingnya literasi investasi berbasis pemahaman aset strategis di lingkungan sekitar masyarakat.
Pengurus KORMI Kota Tasikmalaya yang menjadi salah satu penyelenggara kegiatan Oki Meirani, turut menyoroti dimensi lain dari kegiatan ini, yakni potensi pengembangan sport tourism dan gaya hidup aktif masyarakat.
“Melalui perspektif saya di KORMI, pengenalan ikon kota melalui bus Ngulisik ini juga mempromosikan sport tourism. Menjaga warisan budaya dan sejarah kota adalah investasi sosial yang tak ternilai harganya,” paparnya.
Kegiatan ini menurutnya menjadi bukti nyata bahwa Kota Tasikmalaya mampu menjadi laboratorium ekonomi yang inklusif dan inspiratif.
Integrasi antara akademisi, organisasi mahasiswa, serta fasilitas publik menciptakan ekosistem pembelajaran yang kreatif dan berbasis kearifan lokal.
"Bus Ngulisik tidak hanya menjadi sarana wisata, tetapi juga simbol transformasi pendidikan tinggi yang adaptif terhadap perkembangan zaman dan kebutuhan dunia nyata," pungkas Oki. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

