Sengkarut Psikologis di Balik Berjubelnya Pendaftar Sekolah Maung SMAN 1 Tasikmalaya
SPMB Sekolah Maung SMAN 1 Tasikmalaya ditutup dengan 910 pendaftar rebutkan 421 kursi. Jalur rapor paling padat, jalur IQ tinggi sepi karena krisis kepercayaan diri orang tua dan siswa.
TASIKMALAYA – Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) untuk proyek percontohan Sekolah Manusia Unggul (Maung) di Jawa Barat resmi menutup keran pendaftarannya pada Jumat (29/5/2026). Sebagai salah satu episentrum gagasan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, SMAN 1 Tasikmalaya mencatat lonjakan peminat yang dramatis hingga detik-detik akhir penutupan.
Sebanyak 910 calon siswa dipastikan bakal bertarung sengit demi berebut 421 kursi kuota yang disediakan. Namun, di balik meroketnya angka pendaftar, terselip anomali menarik. Hal ini bisa dilihat dari penumpukan luar biasa terjadi di Jalur Kompetensi Akademik Rapor, sementara jalur potensi berbasis Intelligence Quotient (IQ) tinggi justru sepi peminat.
Pihak sekolah mengendus ada gejala "krisis kepercayaan diri" massal di kalangan orang tua murid. Peta Persaingan Jalur Masuk Rapor Jadi "Medan Perang"
Dari empat jalur yang dibuka oleh panitia SPMB SMAN 1 Tasikmalaya, ketimpangan pemilih terlihat sangat mencolok. Jalur rapor menjelma menjadi jalur paling bersaing ketat dengan rasio persaingan mendekati 1 banding 4.
Ada empat jalur yang disiapkan untuk penerimaan sekolah maung SMAN Tasikmalaya, diantaranya jalur potensi akademik dan TKA (10%) dengan quota siswa sebanyak 38 siswa, sampai saat ini total pendaftar sebanyak 33 siswa.
Jalur Kompetensi Akademik Rapor total pendaftar sebanyak 684 dari kuota 192 yang disiapkan sekolah. Jalur kopentensi akademik kejuaraan total penfatar 19 dari kuota 77 yang disiapkan, dan jalur kopetensi akademik sebanyak 187 pendaftar dari 77 kuota yang di siapkan.
Menanggapi dinamika ini, Kepala SMAN 1 Tasikmalaya, H. Yonandi, menyatakan proses verifikasi dokumen administrasi bergerak cepat tanpa kendala berarti demi mengejar tenggat seleksi berikutnya.
"Laporan Progres Verifikasi per hari ini (Senin, 1/6/2026) pukul 12:53 WIB, sudah terverifikasi valid sebanyak 886 pendaftar. Sementara yang memerlukan perbaikan berkas tersisa 24 pendaftar lagi," ujar H. Yonandi saat dihubungi TIMES Indonesia melalui sambungan telepon seluler, Senin (1/6/2026).
Yonandi menambahkan, meski grafik kenaikan jumlah pendaftar tahun ini tidak melonjak ekstrem, antusiasme nyata dari para calon siswa untuk mengenakan seragam "Sekolah Maung" menunjukkan peningkatan mutu kompetisi yang positif.
Fenomena berjubelnya jalur rapor ini bukan tanpa alasan. Sri Wahyuni (42), salah satu wali murid asal Kawalu yang mendaftarkan anaknya ke SMAN 1 Tasikmalaya, mengakui adanya kecemasan besar yang membayangi para orang tua murid dalam mengukur kemampuan anak mereka di sistem baru ini.
"Jujur saja, sebagai orang tua kami bingung dan takut. Anak saya sebenarnya punya nilai IQ tinggi waktu tes di SMP, tapi kalau dipaksakan ikut jalur potensi akademik atau TKA, kami takut mentalnya jatuh kalau tidak lolos. Standar Sekolah Maung ini kan katanya tinggi sekali. Akhirnya, kami cari aman saja dengan mendaftar lewat jalur rapor yang nilainya sudah pasti dan pegangan kami jelas selama lima semester," aku Sri Wahyuni saat ditemui TIMES Indonesia beberapa hari yang lalu di salah satu SMPN di Kota Tasikmalaya.
Kekhawatiran Sri Wahyuni mencerminkan riak psikologis yang serupa di kalangan ratusan orang tua murid lainnya, yang lebih memilih bersandar pada angka-angka di atas kertas daripada bertaruh pada ujian kompetensi langsung.
Wakil Kepala SMAN 1 Tasikmalaya Bidang Kemahasiswaan, H. Sutrisna, membeberkan analisis psikologis yang senada dengan pengakuan para wali murid. Menurutnya, fenomena ini adalah potret nyata ketakutan siswa dan orang tua untuk bersaing di jalur bakat khusus.
Sutrisna menceritakan temuan timnya di lapangan saat menggelar roadshow sosialisasi ke berbagai sekolah menengah.
"Ini menjadi bentuk ketidakpedean dari siswa dan orang tua. Sewaktu-waktu tim kami roadshow, ketika ditanya untuk jalur Cibi (Cerdas Istimewa Bakat Istimewa), ada sekitar 40 siswa dengan IQ di atas 130," ungkap Sutrisna.
Secara kapasitas otak, puluhan siswa tersebut di atas kertas sangat mumpuni. Namun, dalam realitasnya, angka IQ tinggi tidak melulu berbanding lurus dengan ketahanan mental dan daya juang.
"Dibidang itu ada ketidakseimbangan antara IQ dengan kemauan serta kreativitas. Paduan hal itu yang menghasilkan nilai (simulasi seleksi) menjadi rendah dan membuat mereka gugur dalam proses seleksi. Karena cemas, akhirnya banyak yang beralih mengambil jalan aman ke jalur rapor," pungkas Sutrisna.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

