TIMES TASIKMALAYA, TASIKMALAYA – Upaya menanamkan nilai-nilai spiritual dan karakter sejak usia dini terus dilakukan oleh satuan pendidikan di Jawa Barat. Sejalan dengan Program Bageur dalam Panca Waluya yang digagas Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM), SD Negeri 2 Sindangpalay menghadirkan inovasi edukatif bernuansa religius dengan melukis lafadz Asmaul Husna pada tiang dan tembok sekolah.
Program ini tidak sekadar memperindah lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi media pembelajaran visual yang sarat makna. Melalui pengenalan 99 nama indah Allah SWT, sekolah berupaya membangun karakter siswa yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, serta selaras dengan nilai bageur atau berperilaku baik dalam kehidupan sehari-hari.
Kepala SDN 2 Sindangpalay, Elis Mulyati, S.Pd., M.Pd, saat ditemui mengungkapkan bahwa inisiasi melukis lafadz Asmaul Husna berangkat dari keinginan sekolah untuk mendekatkan peserta didik kepada Allah SWT melalui cara yang sederhana namun bermakna.
Kepala SDN 2 Sindangpalay, Elis Mulyati, S.Pd., M.Pd, saat memberikan keterangan kepada TIMES Indonesia. Kamis (15/1/2026) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)
“Inisiasi lukis lafadz Asmaul Husna ini bertujuan agar para siswa lebih mengenal Allah SWT, memperkuat iman, dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan memahami sifat-sifat-Nya yang mulia. Harapannya, nilai-nilai tersebut dapat menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Elis. Kamis (15/1/2026).
Menurutnya, lingkungan sekolah merupakan ruang belajar yang sangat efektif. Ketika siswa setiap hari melihat, membaca, dan mengamati lafadz Asmaul Husna, secara tidak langsung mereka akan terbiasa mengingat nama-nama Allah serta memahami maknanya.
“Asmaul Husna merupakan nama-nama baik yang dimiliki Allah SWT. Dengan melukis lafadz ini, para siswa dapat belajar memahami arti dari setiap lafadz tersebut,” tambahnya.
Elis menjelaskan bahwa pengenalan Asmaul Husna tidak hanya berdimensi religius, tetapi juga memiliki dampak besar dalam pembentukan karakter anak.
Setiap nama Allah mencerminkan sifat-sifat mulia yang dapat dijadikan pedoman perilaku.
Sifat seperti Ar-Rahman (Maha Pengasih), Al-‘Adl (Maha Adil), dan As-Salam (Maha Pemberi Kedamaian), menurutnya, dapat menjadi cerminan sikap siswa dalam berinteraksi dengan sesama, baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat.
“Ketika anak mengenal sifat Allah yang Maha Pengasih, mereka akan belajar untuk saling menyayangi. Ketika mengenal Allah Maha Adil, mereka akan belajar berlaku jujur dan adil,” jelasnya.
Lebih lanjut, Elis menuturkan bahwa Asmaul Husna memiliki khasiat dan hikmah yang dapat dirasakan oleh siapa saja yang mengamalkannya. Dalam ajaran Islam, umat dianjurkan untuk berdoa dengan menyebut nama-nama Allah sesuai dengan hajat dan kebutuhan.
Gedung SDN 2 Sindangpalay, Indihiang, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, foti diambil Kamis (15/1/2026) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)
“Setiap Asmaul Husna memiliki arti dari sifat Allah. Dengan membaca, menghafal, dan mengetahui maknanya, keimanan seseorang akan meningkat,” ungkapnya.
Ia memaparkan sejumlah tujuan utama pengenalan Asmaul Husna di lingkungan sekolah, di antaranya:
- Memperdalam iman dan ketakwaan, dengan mengenal kebesaran dan sifat-sifat Allah SWT.
- Mendekatkan diri kepada Allah (tawassul) melalui doa yang menyebut nama-nama-Nya.
Selain itu, manfaat dan hikmah yang diharapkan menurut Elis dapat dirasakan seperti Ketenangan batin, melalui zikir dan penghayatan Asmaul Husna, kemudahan rezeki dan pertolongan, dengan memohon kepada Allah menggunakan nama-nama-Nya, seperti Ar-Razzaq.
Selain itu manfaat kesehatan mental dan spiritual, karena anak dibiasakan berpikir positif dan bersandar kepada Allah, kesadaran akan kelemahan diri, yang menumbuhkan rasa syukur dan ketakwaan, serta menjauhkan dari keburukan dan maksiat, karena senantiasa diingatkan akan nilai akhirat.
Program melukis Asmaul Husna ini kata Elis dibarengi dengan pembiasaan pengamalan dalam aktivitas harian siswa. Anak-anak diajak untuk membaca, menghafal, dan memahami makna setiap nama Allah, baik melalui kegiatan belajar di kelas maupun zikir bersama setelah salat.
“Anak-anak juga diarahkan untuk menjadikan Asmaul Husna sebagai panduan dalam berdoa dan berperilaku sehari-hari,” kata Elis.
Dengan cara ini, pendidikan karakter tidak hanya bersifat teoritis, tetapi benar-benar hidup dalam keseharian siswa.
Sejalan dengan Panca Waluya dan Program Bageur Jawa Barat
Inisiatif SDN 2 Sindangpalay ini dinilai sejalan dengan Panca Waluya, konsep pembangunan karakter manusia Jawa Barat yang menekankan keseimbangan spiritual, moral, dan sosial.
Program bageur yang menjadi salah satu ruh kebijakan Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi, tercermin dalam upaya sekolah membangun generasi yang berakhlak, santun, dan beriman.
Lingkungan sekolah yang religius dan edukatif diharapkan mampu menjadi benteng moral bagi anak-anak di tengah tantangan zaman dan derasnya arus informasi digital.
Elis berharap program ini tidak berhenti sebagai kegiatan simbolik semata, tetapi dapat berkelanjutan dengan dukungan dari berbagai pihak, terutama orang tua siswa.
“Kami sangat berharap adanya dukungan seluruh tenaga pendidik serta dari orang tua dan semua pihak agar secara bersama-sama membentuk karakter anak dengan mengenalkan nama-nama dan sifat Allah,” pungkasnya.
Ia menegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan tanggung jawab bersama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Dengan sinergi tersebut, nilai-nilai keimanan dan akhlak mulia yang ditanamkan sejak dini akan tumbuh kuat dan mengakar dalam diri generasi penerus bangsa. (*)
| Pewarta | : Harniwan Obech |
| Editor | : Faizal R Arief |