Hardiknas 2026: Cahaya Braille dari Tasikmalaya Menembus Batas Gelap Ribuan Tunanetra Indonesia
Lentera pendidikan dari Tasikmalaya: Mamat Rahmat, guru ngaji Al-Qur’an Braille, menyalakan cahaya ilmu bagi ribuan tunanetra Indonesia lewat teknologi, tanpa pamrih.
TASIKMALAYA – Pagi itu, suara lirih namun tegas terdengar dari sebuah rumah sederhana di Tasikmalaya. Tidak ada papan tulis, tidak ada bangku sekolah berderet rapi.
Di sebuah rumah sederhana yang ada hanya lembaran tebal bertitik-titik timbul dan sebuah ponsel pintar yang menjadi jembatan ilmu.
Dari ruang kecil itu dengan menggenggam sebuah Gawai Mamat Rahmat menyalakan cahaya bagi ribuan tunanetra di seluruh Indonesia.
Jika pendidikan adalah cahaya, maka Mamat adalah lentera yang tak pernah padam.
Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati Sabtu, 2 Mei 2026, mengusung tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”.
Tema ini seolah menemukan wujud nyatanya dalam perjuangan Mamat seorang guru ngaji Al-Qur’an Braille dari Majelis Taklim Tunanetra Al-Hikmah Tasikmalaya yang telah mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan inklusif selama lebih dari satu dekade.

Perjalanan itu dimulai sederhana. Tahun 2011, hanya lima orang murid yang duduk mengelilinginya, belajar mengenal huruf hijaiyah melalui sentuhan.
“Waktu pertama ngajar tahun 2011, murid saya cuma 5 orang,” kenang Mamat.
Namun waktu mengubah segalanya. Dengan memanfaatkan teknologi, ia membuka kelas daring melalui Zoom dan WhatsApp Voice Note. Kini, ribuan tunanetra dari Aceh hingga Papua terhubung dalam satu ruang belajar tanpa batas.
“Sekarang alhamdulillah, yang belajar rutin lewat daring sudah ribuan,” tuturnya.
Setiap pagi dan sore, ia hadir bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga penyemangat.
Suaranya menjadi penuntun, menggantikan visual yang tak bisa dijangkau murid-muridnya.
Di tangan Mamat, titik-titik Braille bukan sekadar simbol. Ia adalah jalan menuju pemahaman Kalam Ilahi. Namun, proses itu tidak selalu mudah.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan mengajarkan huruf, melainkan menghapus rasa putus asa.
“Yang susah itu bukan ngajarin hurufnya, tapi meyakinkan mereka bahwa tunanetra juga berhak jadi penghafal Qur’an,” katanya.
Kata-kata itu membekas dalam diri banyak muridnya. Salah satunya Azka, yang sempat kehilangan harapan.
“Saya sempat putus asa karena nggak bisa baca Qur’an. Setelah ketemu kelas Pak Mamat, saya tahu Allah kasih jalan lewat jari-jari ini,” ungkapnya.
Kini, Azka mampu melantunkan ayat-ayat suci dengan percaya diri sebuah perubahan yang tak hanya menyentuh kemampuan, tetapi juga jiwa.
Di balik dedikasinya, Mamat tidak menerima bayaran dari aktivitas mengajarnya. Ia menggantungkan hidup dari profesinya sebagai tukang pijat.
Dari penghasilan itulah, ia juga ikut membiayai kebutuhan pembelajaran, termasuk mushaf Al-Qur’an Braille yang harganya tidak murah.
“Satu mushaf Braille bisa enam jilid, tebal sekali. Harganya mahal,” ujarnya.
Namun ia tak ingin menjadikan keterbatasan ekonomi sebagai penghalang bagi murid-muridnya.
“Tapi kalau nunggu mampu, kapan tunanetra bisa ngaji?” tambahnya lirih.
Dedikasi ini menunjukkan bahwa pendidikan sejati tidak selalu lahir dari fasilitas mewah, tetapi dari ketulusan yang terus menyala.
Apa yang dilakukan Mamat tidak hanya berdampak pada murid-muridnya, tetapi juga menginspirasi lingkungan sekitar. Ketua RW setempat, Harniwan Obech, menyebutnya sebagai simbol pendidikan inklusif.
“Beliau itu obor pendidikan inklusif. Dari Tasikmalaya, cahaya Qur’an bisa menjangkau seluruh Indonesia,” katanya.
Menurutnya, Mamat adalah bukti nyata bahwa keterbatasan tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti berbagi ilmu.
Di Hari Pendidikan Nasional 2026, kisah Mamat Rahmat menjadi pengingat bahwa guru hadir dalam berbagai bentuk.
Tidak selalu berdiri di depan kelas, tidak selalu memegang spidol atau kapur. Ada guru yang mengajar melalui titik-titik Braille.
Ada yang hadir melalui suara di layar kecil. Dan ada yang mengabdikan hidupnya tanpa pamrih. Dan selama masih ada orang seperti dirinya, cahaya itu akan terus menyala, bahkan di tengah gelap sekalipun.
"Dari Tasikmalaya, Mamat Rahmat mengajarkan satu hal penting bahwa pendidikan sejati adalah tentang membuka jalan bagi siapa pun, dalam kondisi apa pun, yang tentunya mesri mendapat perhatian juga dari Pemerintah Kota Tasikmalaya,"pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

