Imlek Shio Kuda Api: Simbol Kekuatan, Optimisme, dan Harapan
Perayaan Imlek 2577 Shio Kuda Api di Tasikmalaya sarat makna: simbol kekuatan dan optimisme, pererat silaturahmi, lestarikan budaya Tionghoa dan toleransi lintas iman.
TASIKMALAYA – Perayaan Imlek akan dirayakan beberapa hari lagi, berbagai ornamen sudah terlihat di beberapa pusat perbelanjaan dan wihara, Perayaan Tahun Baru Imlek tahun ini membawa makna yang istimewa bagi masyarakat Tionghoa, termasuk di Kota Tasikmalaya.
Imlek kali ini jatuh pada Shio Kuda Api, yang secara filosofis melambangkan kekuatan, semangat juang, optimisme, serta harapan besar dalam meraih pencapaian dan kemajuan.
Makna tersebut disampaikan oleh Wo Tjong Hoa (68), warga keturunan Tionghoa yang tinggal di Jalan Mayor Utarya, Empangsari, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya.
Pria yang akrab disapa Ko Tjong Tjong ini menuturkan bahwa Shio Kuda Emas bukan sekadar simbol peruntungan pribadi, melainkan juga refleksi harapan kolektif bagi kemajuan daerah.
“Kuda itu melambangkan kekuatan dan semangat pantang menyerah, sedangkan api melambangkan nilai semangat, kemuliaan, dan kemakmuran. Ini menjadi simbol optimisme, termasuk harapan akan pembangunan dan kemajuan Kota Tasikmalaya,” ujar Ko Tjong Tjong kepada TIMES Indonesia, Kamis (12/2/2026).
Tjong tjong memgungkapkan bahwa Imlek bukanlah tradisi baru, Menurut catatan sejarah, Tahun Baru Imlek pertama kali dirayakan sekitar 4.724 tahun lalu, bertepatan dengan masa Dinasti Xia di daratan Tiongkok (2070–1600 SM).
Pada masa itu, masyarakat Tiongkok hidup dengan sistem agraris. Musim dingin menjadi periode sulit karena mereka tidak dapat bercocok tanam. Datangnya musim semi disambut dengan suka cita karena menandai awal kehidupan baru, aktivitas di ladang, serta harapan panen yang melimpah.

“Ketika musim semi tiba, mereka menyambutnya dengan kegembiraan karena bisa kembali bekerja di ladang dan mendapatkan hasil panen yang menyenangkan hati. Itulah awal mula Imlek dirayakan sebagai pergantian tahun,” jelas Ko Tjong Tjong.
Tahun ini, Imlek yang dirayakan masyarakat Tionghoa di Indonesia adalah Imlek ke-2577. Namun, angka ini bukan dihitung sejak Dinasti Xia, melainkan berdasarkan kalender kaum Confusius (Konghucu).
Perhitungan tersebut dimulai dari tahun kelahiran Confusius atau Nabi Kong Hu Cu, yang lahir di Tiongkok pada 551 SM. Oleh karena itu, Imlek 2577 memiliki makna spiritual dan filosofis yang kuat, khususnya bagi penganut ajaran Konghucu.
Sebagai bangsa yang kaya akan budaya, masyarakat Indonesia diajak untuk terus menjaga dan mengembangkan keberagaman yang ada.
Perayaan Imlek di Kota Tasikmalaya menjadi bukti nyata bahwa perbedaan budaya justru dapat menjadi kekuatan dalam membangun persatuan dan keharmonisan.
Bagi masyarakat Tionghoa di Tasikmalaya, Imlek bukan sekadar pergantian tahun, tetapi juga momentum mempererat tali kekeluargaan, melestarikan budaya leluhur, serta memperkuat toleransi antarumat beragama.
“Imlek itu mirip Idul Fitri. Ada silaturahmi, kebersamaan keluarga, dan saling mendoakan,” ungkap Ko Tjong Tjong.
Menjelang Imlek, rumah-rumah warga Tionghoa di Tasikmalaya tampak dihiasi ornamen bernuansa merah dan emas.
Warna merah dipercaya melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, dan semangat hidup, sementara emas mencerminkan kemakmuran dan harapan masa depan yang cerah.
Bagi anak-anak, Imlek identik dengan pakaian baru berwarna merah, yang diyakini membawa hoki dan doa agar kehidupan ke depan selalu bercahaya.
Pada malam menjelang Imlek, keluarga besar biasanya berkumpul untuk makan malam bersama. Tradisi ini menjadi simbol rasa syukur, kebersamaan, dan keharmonisan keluarga.
Hidangan khas Imlek seperti kue keranjang (dodol Imlek) menjadi sajian wajib. Makanan ini melambangkan rezeki yang manis, keberlanjutan, serta hubungan keluarga yang erat dan lengket satu sama lain.
Pada hari H Imlek menurut Ko Tjong tjong, masyarakat Tionghoa melaksanakan tradisi hiong hia, yakni bersilaturahmi ke rumah sanak saudara.
Dalam momen ini, budaya memberi angpau amplop merah berisi uang—dari orang yang lebih tua kepada yang lebih muda menjadi bagian penting.
Tradisi ini bukan sekadar memberi materi, melainkan juga doa dan harapan akan keberkahan, kesehatan, dan keberuntungan di tahun yang baru.
Di masa lalu, perayaan Imlek juga dimeriahkan dengan kembang api, pertunjukan barongsai dan liong, dengan puncak perayaan pada hari ke-15 yang dikenal sebagai Cap Go Meh.
Namun, sejarah mencatat bahwa pernah ada masa pembatasan budaya Tionghoa di ruang publik. Situasi tersebut berubah setelah era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang kemudian diperkuat pada masa Presiden Megawati Soekarnoputri dengan menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional.
Kini, pertunjukan barongsai dan liong kembali hidup dan dapat dinikmati masyarakat luas, termasuk di pusat kota dan pusat perbelanjaan.
Di Kota Tasikmalaya, Wihara Avalokitesvara menjadi pusat ibadah utama saat malam Imlek. Umat datang untuk berdoa, memohon kesehatan, kelancaran usaha, serta harapan akan kehidupan yang lebih baik di tahun mendatang.
Pasca era reformasi, terjadi akulturasi budaya yang positif. Seni barongsai tidak hanya diterima, tetapi juga dinikmati oleh masyarakat non-Tionghoa, menjadikan Imlek sebagai simbol kerukunan antarumat beragama di Kota Tasikmalaya.
Seiring perkembangan zaman, tradisi perayaan Imlek di Tasikmalaya juga mengalami perubahan. Jika dahulu sebagian besar keluarga memasak di rumah, kini banyak yang memilih makan bersama di hotel berbintang.
“Meski caranya berubah, nilai kebersamaan tetap menjadi inti utama perayaan Imlek,” pungkas Ko Tjong Tjong. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.


