https://tasikmalaya.times.co.id/
Berita

Minim Tenaga Medis Kuasai Bahasa Isyarat, Pegiat Sosial Dorong Pemkot Tasikmalaya Gelar Pelatihan

Rabu, 07 Januari 2026 - 20:42
Minim Tenaga Medis Kuasai Bahasa Isyarat, Pegiat Sosial Dorong Pemkot Tasikmalaya Gelar Pelatihan Ilustrasi-Seorang tenaga medis saat berkomunikasi dengan seorang pasien. (FOTO: Ist)

TIMES TASIKMALAYA, TASIKMALAYA – Upaya mewujudkan pelayanan kesehatan yang inklusif dan setara bagi seluruh warga, termasuk penyandang disabilitas tuli dan tunarungu, dinilai masih menghadapi tantangan serius di Kota Tasikmalaya

Salah satu persoalan utama yang disoroti adalah minimnya penguasaan bahasa isyarat di kalangan tenaga medis, baik di puskesmas maupun rumah sakit.

Hal tersebut disampaikan oleh Aris Rahman, M.Pd, salah satu pegiat sosial dari Paguyuban Pegiat Disabilitas Tasikmalaya, yang mendorong Pemerintah Kota Tasikmalaya agar segera menginisiasi pelatihan bahasa isyarat bagi tenaga medis. 

Langkah ini dinilai penting untuk memastikan komunikasi yang jelas antara tenaga kesehatan dan pasien tuli/tunarungu serta mencegah risiko miskomunikasi yang berpotensi membahayakan keselamatan pasien.

“Penguasaan bahasa isyarat oleh tenaga medis di Kota Tasikmalaya saat ini masih tergolong minim. Padahal komunikasi adalah kunci utama dalam pelayanan kesehatan, apalagi penyandang disabilitas di Kota Tasik tak kurang dari dua ribu penyandang disabilitas,” ujar Aris kepada TIMES Indonesia, Rabu (7/1/2026).

Aris mengungkapkan, persoalan ini bukan hal baru. Ia menyebut pernah berdiskusi langsung dengan Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya terkait layanan kesehatan bagi penyandang disabilitas, khususnya komunitas Tuli.

“Dulu kita pernah berbincang dengan kepala dinas kesehatan, bahwa di Kota Tasikmalaya ada 22 puskesmas. Namun dalam menjalankan layanan kepada kaum difabel, khususnya Tuli dan tunarungu, masih belum maksimal,” terang Aris.

Menurutnya, keterbatasan komunikasi antara tenaga medis dan pasien tuli kerap menimbulkan ketergantungan pada pendamping atau keluarga pasien. Kondisi ini tidak hanya mengurangi kemandirian pasien, tetapi juga berisiko menimbulkan kesalahan dalam penyampaian informasi medis yang krusial.

Lebih lanjut, Aris mengungkapkan sejumlah manfaat utama penguasaan bahasa isyarat dalam layanan kesehatan salah satunya adalah pencegahan terhadap kesalahan medis.

“Komunikasi yang jelas akan mengurangi risiko salah tafsir diagnosis, pengobatan, maupun instruksi medis. Jika tidak dipahami dengan benar, hal tersebut bisa berujung pada kesalahan penanganan bahkan malpraktik,” jelasnya.

Selain itu, tenaga medis yang menguasai bahasa isyarat dinilai mampu meningkatkan kualitas pelayanan. Interaksi yang lebih baik antara tenaga kesehatan dan pasien tuli akan membangun rasa percaya, empati, serta kenyamanan dalam proses pengobatan.

“Pasien tuli juga akan lebih memahami kondisi medisnya, prosedur yang dijalani, serta perawatan lanjutan. Dengan begitu, mereka bisa lebih terlibat dalam pengambilan keputusan terkait kesehatan mereka sendiri,” tambah Aris.

Penguasaan bahasa isyarat oleh tenaga medis juga disebut sebagai langkah strategis dalam menciptakan lingkungan layanan kesehatan yang inklusif. 

Hal ini menunjukkan penghargaan terhadap keberagaman serta komitmen pemerintah dalam memastikan akses pelayanan yang setara bagi seluruh warga Kota Tasikmalaya tanpa terkecuali.

“Ini bukan sekadar soal kemampuan teknis, tetapi soal kemanusiaan dan hak dasar warga negara. Pelayanan kesehatan harus bisa diakses semua orang, termasuk teman-teman tuli,” tegas Aris.

Kondisi minimnya tenaga medis yang menguasai bahasa isyarat juga diakui oleh kalangan internal layanan kesehatan. Jihan Fauziah (27), seorang Asisten Apoteker di RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya, beberapa waktu lalu pada acara yang bertajuk ruang bertemu yang diselenggarakan oleh komunitas pemerhati tuna rungu   menyebut bahwa hingga saat ini rumah sakit tersebut belum memiliki tenaga medis yang benar-benar memahami bahasa isyarat.

“Sejauh ini, petugas medis di RSUD dr. Soekardjo belum memiliki tenaga yang paham bahasa isyarat. Biasanya kami mengandalkan tulisan atau bantuan keluarga pasien,” ungkap Jihan.

Ia mengakui bahwa metode tersebut belum sepenuhnya efektif, terutama dalam situasi darurat atau saat harus menjelaskan informasi medis yang kompleks.

"Ya, saya juga berharap Pemerintah Kota Tasikmalaya dapat mengambil langkah konkret, mulai dari penyusunan kebijakan, kerja sama dengan komunitas Tuli, hingga penyelenggaraan pelatihan bahasa isyarat secara berkelanjutan bagi tenaga medis di puskesmas dan rumah sakit."harapnya.

Dengan menguasai bahasa isyarat menurut Jihan pelayanan kesehatan di Kota Tasikmalaya diharapkan tidak hanya berfokus pada aspek medis semata, tetapi juga mengedepankan nilai inklusivitas, empati, dan keadilan sosial, demi terwujudnya sistem kesehatan yang ramah bagi semua lapisan masyarakat. (*)

Pewarta : Harniwan Obech
Editor : Hendarmono Al Sidarto
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Tasikmalaya just now

Welcome to TIMES Tasikmalaya

TIMES Tasikmalaya is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.